Hancurkan Batu Ginjal dengan Daun Saledri


saledriGinjal manusia yang setiap hari dipakai untuk menyaring racun dan berbagai kotoran lainnya lama kelamaan akan berkurang fungsinya dan bahkan bisa mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan perawatan yang berkala baik menggunakan metode kedokteran modern atau dengan cara tradisional misalnya menggunakn manfaat daun seledri untuk ginjal. Jika anda belum tau apa saja khasiat daun seledri tersebut, itu saatnya anda membaca artikel ini sampai habis.

Manfaat Daun Seledri Untuk Ginjal

Manfaat daun seledri salah satunya adalah sebagai pembersih organ ginjal kita, seperti yang kita ketahui bahwa ginjal bekerja setiap hari tanpa henti untuk menyaring segala kotoran, racun, dan zat-zat yang tidak terpakai untuk selanjutnya dibuang saat kita buang air kecil. Read the rest of this entry

Sumbar Usulkan Pembentukan Daerah Istimewa Minangkabau


minang muslimGagasan pembentukan Daerah Istimewa Minangkabau oleh salah seorang tokoh Sumbar, yaitu Prof. Mochtar Naim mendapat sambutan positif dan dukungan dari Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno rencananya akan membawa usulan pembentukan Daerah Istimewa Minangkabau tersebut kepada Pemerintah Pusat.

“Nanti kita akan mengu­sulkan kepada Pemerintah Pusat untuk menjadikan Sumbar Daerah Isimewa Minangkabau, karena pada dasarnya nagari bersifat istimewa pada dua kata kunci yaitu, nagari mempunyai hak-hak asal usul dan nagari mempu­nyai susunan asli,” kata Irwan Prayitno seperti dikutip dari Haluan. Read the rest of this entry

Adakah Tuyul?


Nikah Dini Jadi Solusi Atasi Pergaulan Bebas, Ulama Tolak Ubah UU Perkawinan


nikah mudaUndang-Undang perkawinan Nomor 1 tahun 1974 yang memberikan batas minimal usia nikah bagi perempuan 16 tahun digugat oleh sekelompok orang. Para penggungat adalah Indri Oktaviani, F.R. Yohana Tantiana W., Dini Anitasari, Sabaniah, Hidayatut Thoyyibah, Ramadhaniati, dan Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA).

Mereka meminta agar batas minimal usia nikah bagi perempuan adalah 18 tahun. Mereka berpendapat bahwa aturan tersebut (usia minimal wanita menikah 16 tahun) telah melahirkan banyak praktik perkawinan anak, khususnya anak perempuan, mengakibatkan perampasan hak-hak anak, terutama hak untuk tumbuh dan berkembang. Mereka mengacu pada Pasal 28 B dan Pasal 28 C Ayat (1) UUD 1945.

Para ulama yang tergabung di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menolak mengubah aturan tersebut.

“Kesenjangan yang terlalu jauh dengan usia dewasa (baligh) menurut ajaran Islam banyak menimbulkan kerusakan yang terjadi di dalam masyarakat, seperti adanya perzinaan, seks bebas atau fenomena hamil di luar nikah yang seringkali pada gilirannya menimbulkan ekses negatif meningkatnya aborsi di kalangan remaja wanita,” kata Ketua MUI KH Amidan Syahberah saat memberi keterangan sebagai Pihak Terkait pengujian UU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta, Selasa (2/12/2014), dilansir Antara.

Menurut Amidan, dengan angka batas minimal 16 tahun untuk usia kawin wanita, maka ekses-ekses negatif yang terjadi di masyarakat seperti itu bisa diantisipasi.

“Oleh karena itu, pengaturan batas minimal 16 tahun usia perkawinan dalam UU Nomor 1 tahun 1974 tidak perlu dipermasalahkan dan tidaklah bertentangan dengan UUD 1945,” kata Amidan.

Hal yang sama juga diungkapkan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin bahwa frasa 16 tahun bagi wanita dalam Pasal 7 ayat (1) UU 1974 tidak perlu diubah karena sudah disetujui pembuat UU di DPR dan para ulama di Indonesia.

Menurut Ahmad Ishomuddin pertimbangan usia nikah minimal 16 tahun bagi wanita pertimbangannya antara lain kebebasan remaja yang luar biasa.

“Meningkatkan batasan pernikahan menjadi 18 tahun itu mirip dengan menunda-nunda pernikahan, sementara pernikahan merupakan solusi atau jalan keluar dari pergaulan bebas dan perzinahan,” katanya.

Sedangkan Sekretaris Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Ibnu Sina Chandranegara juga meminta majelis hakim MK untuk menolak permohonan pengujian UU Perkawinan yang mengatur batas usia nikah.

“Al Quran secara konkrit tidak menentukan batas usia bagi pihak yang akan melangsungkan pernikahan,” kata Ibnu Sina.

Dia mengungkapkan batasan umur nikah berdasarkan Islam adalah sudah cukup umur untuk menikah (baligh), yakni pikirannya telah mampu mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk.

Ibnu Sina mengungkapkan bahwa awal baligh secara yuridik berusia 12 tahun untuk laki-laki dan 9 tahun untuk perempuan, sedangkan batas akhirnya masih terdapat perbedaan di kalangan ulama.

Menurut Imam Abu Hanifah yakni mencapai usia 18 tahun untuk laki-laki dan 17 tahun untuk wanita, sedangkan sebagian ulama Hanafiyah yaitu apabila seorang telah mencapai usia 15 tahun bagi laki-laki dan wanita.

Para penggugat itu mengajukan uji materi Pasal 7 Ayat (1) yang berbunyi:

“Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.”

Pasal 7 Ayat (2) berbunyi, “Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita.” Red: Budi Marta Saudin. (gemaislam)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.459 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: