Ketua PBNU: Biksu Teroris Mesti diadili di Pengadilan Internasional


slametKamis (21/5/2015)  K.H Slamet Effendi Yusuf menjadi pembicara di Diskusi Publik bertemakan ‘Nestapa Kemanusiaan, Save Rohingya’ di Kantor Dakwah Muhamadiyah. Acara yang dihadiri lebih dari 50 orang itu dihadiri juga tokoh Budha dan Hindu.

Slamet Effendi menilai Myanmar telah melakukan kejahatan internasional atas keputusannya mencabut kewarganegaraan Muslim Rohingya dan ini adalah pelanggaran HAM.

“Telah terjadi pengucilan terhadap suku bangsa. Tidak berkewarganegaraan adalah bukti.  Pengucilan. Kepemilikan warga negara adalah HAM,” tegasnya. Read the rest of this entry

Qori Internasional KH. Muammar ZA: Membaca Al Qur’an dengan Langgam Jawa Dilarang!!


KH Muammar ZA membacakan Al Qur’an dengan langgam Jawa dan Sunda sebagai contoh cara membaca yang dilarang oleh Nabi. Video ini diunggah oleh akun Amin Mungamar di akun youtube yang merupakan rekaman Kaset bimbingan Tilawatil Qur’an edisi VIII B.

Read the rest of this entry

Biksu Buddha Myanmar Membunuh Muslim, Karena Takut Negaranya Menjadi Muslim


buddha teroris

Agama Teroris Sesungguhnya

Tokoh biksu nasionalis Wirathu mengungkapkan pengakuannya terkait konflik agama di Myanmar. Pengusung gerakan 969 ini takut Myanmar akan seperti Indonesia setelah islam masuk ke nusantara pada abad ke-13. Pada akhir abad ke-16, Islam dapat menggantikan Hindu dan Buddha sebagai agama yang dominan di pulau-pulau utama di Indonesia.

Dengan menyebarkan nilai 969, Wirathu berupaya mengingatkan kaum Buddha. ‘Lampu kuning’ itu berisi tanda untuk mengawasi Muslim yang mulai menipiskan identitas Myanmar sebagai negara Buddha. Read the rest of this entry

Baca Al-Qur’an dengan Langgam Jawa, Menag Diminta Nyanyikan “Indonesia Raya” dengan Langgam “Cocak Rowo”


Hartono Ahmad Jaiz

Baca Al-Qur’an dengan Langgam Jawa, Menag Diminta Nyanyikan “Indonesia Raya” dengan Langgam “Cocak Rowo”

Sebelum melontarkan dan mempertahankan imbauan baca Quran dengan Langgam Jawa, sebaiknya Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin mencontohi lebih dulu menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dengan langgam “Cocak Rowo”.

Atau sekalian yang asli langgam Jawa, misalnya Megatruh (Memecat Nyawa). Atau sekalian langgam Jawa Pucung (alias pocong) yang misinya agar jenazah dimandikan, dikafani, dishalati, dan dikubur. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.232 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: