Daily Archives: 25 Maret 2012

Agama Syiah di Ranah Minang Marak Melalui Budaya Tabuik


Kata orang Minang, “Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah.” Maksudnya adalah adat berdasarkan syarak (agama Islam), agama Islam berdasarkan kitab suci (Al-Quran). Bahkan Ranah Minang adalah tempat lahirnya ulama-ulama besar yang dikenal sangat kuat menjaga aqidah. Belakangan, citra itu agak berubah. Beberapa aliran sempalan dalam Islam –bahkan Kristenisasi– kian berkembang secara pesat di sana. Termasuk diantaranya adalah penganut Agama Syiah. Perkembangan itu bisa dilihat dari berbagai perayaan dan acara-acara seremonial kaum Syiah. Misalnya perayaan asyura dan tabuik pariaman. Dalam buku Kafilah Budaya, karya Muhammad Zafar Iqbal disebutkan, mubalig Iran memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan Syiah di Minang.

Perkembangan Syiah juga terlihat dengan hadirnya kunjungan Dubes Iran, Behrooz Kamalvandi, selama 2 hari ini dengan membawa rombongan 10 orang dan mengikut sertakan Televisi Nasional Iran untuk meliput acara tabuik pariman. Tabuik, merupakan perayaan Asyuraa kematian Imam Husein, cucu Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi wasallam di Padang Karbala, mirip dengan perayaan Syiah di Iran.

Agama syiah ini dapat terlihat dari makam Syekh Burhanuddin Ulakan, sufi ternama di daerah, tradisi basuluak dan tabuik membuka tabir keberadaan ajaran Syiah di daerah itu. Perayaan Tabuik yang menjadi tradisi kaum Syiah, berasal dari angkatan laut Belanda asal Pakistan yang melarikan diri ke pelabuhan Pariaman (Sumatera Barat). Read the rest of this entry

Kemiripan Syi’ah dengan Yahudi


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang yang datang sesudah mereka -sesudah Muhajirin dan Anshar- berdoa; Robbanaghfirlanaa wa li ikhwaaninalladziina sabaquuna bil iimaan, wa laa taj’al fii quluubinaa ghillal liliadziina aamanuu. Robbanaa innaka ro’uufurr rahiim. “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah terlebih dahulu beriman, dan janganlah Kau jadikan di dalam hati kami perasaan dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: