Tiga Fenomena yang Memprihatinkan di IAIN


Image

Pakaian Ketat

 

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]

Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya.

Pengantar:

Gerakan pemusyrikan secara sistematis dilangsungkan untuk menjadikan Ummat Islam sebagai sasaran. Di kalangan awam, tradisional, di kampung-kampung dan desa-desa digalakkan pemusyrikan dengan menghidup-hidupkan apa yang mereka sebut tour ziarah, wisata religi dan sebagainya ke kuburan keramat, gua keramat dan sebagainya. Di samping itu dihidup-hidupkan pula upacara-upacara kemusyrikan misalnya larung laut (melarung atau menghanyutkan sesaji untuk sesembahan laut yakni setan laut yang ditakuti), upacara lain-lain dengan memberikan sesaji untuk roh-roh atau makhluq gaib, yang tentu saja ini adalah kemusyrikan, dosa paling besar. Orang awan dibujuk berbagai pihak, dari yang berseragam sampai yang bersorban, hingga mereka berbondong-bondong mengadukan kesulitan hidupnya dan angan-angan bahagianya kepada selain Allah, entah itu apa yang mereka sebut kuburan keramat, gua keramat ataupun keramat-keramat lainnya. Itulah pemusyrikan terhadap kalangan orang awam. Bahkan ini sifatnya umum, hingga pelakunya pun dari orang awam sampai eksekutif bahkan mungkin petinggi.

Pemusyrikan yang untuk kalangan umum ini tidak usah dengan cara menyekolahkan para pembujuknya ke luar negeri ke negeri-negeri kafir, cukup dengan menghidupkan kembali kemusyrikan yang sudah ada di mana-mana di negeri ini.

Berbeda dengan pemusyrikan untuk perguruan tinggi Islam, maka untuk menjadikan para dosen dan mahasiswanya berkeyakinan apa yang mereka sebut pluralisme agama yakni hakaketnya adalah kemusyrikan baru, yakni menyamakan semua agama, telah digalakkan pembelajaran dosen-dosen IAIN (perguruan tinggi Islam) se-Indonesia sejak 1975-an masa Menteri Agama Mukti Ali. Karena sasaran yang akan dimusyrikkan itu berbeda, maka belajarnya berbeda dengan pembujuk kemusyrikan tradisional yang cukup menggali dari budaya kemusyrikan local, maka dikirimlah para dosen IAIN se-Indonesia untuk belajar ke negeri-negeri kafir. Sepulang dari negeri-negeri kafir, mereka menyebarkan faham pluralisme agama alias kemusyrikan baru di perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Maka benarlah buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005 itu.

Jadi, masyarakat umum dari awan sampai petinggi dimusyrikkan dengan cara meminta-minta apa yang dicita-citakan ke kuburan keramat dan sebagainya, sedang yang belajar agama di perguruan tinggi Islam yang seharusnya jadi ulama penda’wah Islam justru diseret kepada kemusyrikan baru hanya saja dinamakan dengan nama lain, yakni pluralisme agama.

Alhamdulillah, faham pluralisme agama, liberalisme, dan sekularisme telah difatwakan haram oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) tahun 2005.

Namun fatwa tinggal fatwa, sedang pelaksanaan pemusyrikan secara sistematis itu tampaknya tidak mereda. Itulah bahaya sangat besar. Dan itu telah diperingatkan secara tegas oleh Allah Ta’ala:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Pemusyrikan secara sistematis baik untuk masyarakat umum maupun terpelajar ternyata diintensipkan dengan cara-cara yang sesuai dengan sasarannya, dan itupun dengan menguras duit dari Ummat Islam tentunya. Untuk menghindarinya, pertama-tama perlu tahu bahwa sebenarnya ada gerakan yang membahayakan itu. Maka mari kita simak, sebagian hasilnya pun telah memprihatinkan, seperti berikut ini. Selamat menyimak. (Redaksi nahimunkar.com).

Sorotan dua Syaikh

Sorotan dua Syaikh Ahli Hadits dari Yordan di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Surabaya dan UIN (Universitas Islam Negeri) Malang: Beberapa Pemahaman Perlu Diluruskan

Empat orang Syaikh ahli Hadits, murid Syaikh Al-Albani ahli hadist terkemuka tingkat dunia, berkunjung ke Indonesia untuk menjadi tutor dalam dauroh (penataran) tentang ilmu aqidah dan hadits. Penataran itu diselenggarakan oleh Al-Irsyad, berlangsung di Lawang Malang Jawa Timur, 6-10 Desember 2004, dihadiri 135 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Di samping itu, para Syaikh itu sempat bertabligh Akbar di Masjid Istiqlal Jakarta, 5 Desember 2004, dan menyampaikan ceramah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, serta di UIN (Universitas Islam Negeri) Malang Jawa Timur.

Berikut ini kami ringkaskan ceramah dua Syaikh yang berceramah di IAIN Surabaya dan UIN Malang yang diterjemahkan saat itu oleh Ustadz Agus Hasan Bashori da’I Al-Sofwa Jakarta yang bermukim di Malang.

A. Di IAIN Surabaya

Ringkasan Ceramah Syaikh Ali Hasan Al-Halabi [1]

Prolog Penerjemah

Pagi itu pukul 10.00 WIB, Saya (Agus Hasan Bashori), saudara Husnul Yaqin dan Ustadz Salim Ghanim (Al-Irsyad Surabaya) meluncur dari Wisma Erni Lawang, Malang Jawa Timur, mengawal Syaikh Ali ibn al-Hasan al-Halabi menuju IAIN Sunan Ampel Surabaya pada pekan pertama Desember 2004.

Tidak terasa waktupun menunjukkan pukul 11.40 WIB dan kamipun sampai di halaman Masjid Kampus IAIN Surabaya. Ternyata shalat jama’ah telah selesai. Acara langsung dimulai. Salah seorang dosen IAIN berdiri memberikan sambutan singkat dalam Bahasa Indonesia yang isinya menyambut kedatangan Syaikh, berterima kasih kepada Allah atas kedatangan seorang ulama ahli hadits dari Yordania dan mengharapkan kepada hadirin untuk menyima’ ceramah ilmiah yang akan disampaikan Fadhilah al-Syaikh.

Saya yang duduk di sebelah kanan Syaikh yang bertindak selaku penerjemah mengawali Tabligh itu dengan memperkenalkan Syaikh kepada hadirin yang berjumlah sekitar seratusan orang. Saya katakan bahwa tamu kita ini adalah Syaikh Ali ibn Al-Hasan al-Halabi. Beliau adalah salah satumurid senior Syaikh Nashiruddin al-Albani ahli hadits terkemuka di dunia Islam yang meninggal 3 tahun yang lalu. Beliau menyertai Syaikh al-Albani selama 25 tahun dan kini telah menulis lebih dari 150 kitab baik Ta’lifTa’liqTahqiq maupun Syarah. Lalu saya sebutkan beberapa nama kitab beliau. Dan selanjutnya saya persilahkan beliau berkhutbah.

Batilnya Perkataan “Islam bukan Nama Agama”

(Ringkasan Pidato Syaikh Ali)

Pembahasan kita akan kita tekankan pada masalah-masalah ilmiah yang amat mendasar.

Pertama: Tentang hakikat agama Islam. Agama yang dengan bangga kita menisbatkan diri kepadanya, berdakwah kepadanya dan berkumpul karenanya. Dialah agama Islam yang difirmankan oleh Allah:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85)

Ayat ini merupakan Dustur (undang-undang dasar) bagi setiap muslim dan merupakan syariatnya yang paling agung. Islam adalah agama Allah, agama yang haq dan agama yang diterima dan agama penutup. Karena Rasul Allah r bersabda: “Tidak ada Nabi lagi sesudahku”.

Islam memiliki dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Pengertian khusus adalah apabila Islam digunakan secara mutlak atau lepas maka maksudnya adalah agama Nabi Muhammad r. Sedangkan makna umumnya adalah agama semua Nabi yang mengajarkan Tauhid, tunduk patuh hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ(163)

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (al-An’aam: 162-163)

Pasrah menyerahkan diri kepada Allah melalui ajaran masing-masing Nabi adalah makna Islam secara umum. Sedangkan makna Islam secara khusus yang karenanya al-Qur’an diturunkan adalah tunduk patuh kepada Allah dan taat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat.

Di dalam al-Qur’an, di dalam surat al-Fatihah, surat terbesar dalam al-Qur’an, yang menjadi rukun shalat dan tidak sah shalat tanpanya, sebagaimana hadits: “Tidak ada shalat tanpa Fatihah”; surat yang dihapal oleh anak-anak kecil apalagi oleh orang dewasa, di dalamnya Allah berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ [الفاتحة/6، 7]

“Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”. Jalan yang lurus di sini adalah agama yang dianut oleh para Nabi, para shiddiq, shuhada’ dan kaum shalih seperti firman Allah:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang menta‘ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni‘mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (al-Nisaa’: 69).

Telah shahih di dalam al-Sunnah bahwa ketika Rasul Allah r menyebut ayat ini

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين

“bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” beliau mengatakan yang dimurkai adalah Yahudi dan yang sesat adalah Nasrani”.

Seandainya ada orang yang merubah-rubah makna Islam dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah nama agama yang diterima tetapi sifat agama, maka ini tertolak dan batil.

Pertama: Tertolak oleh QS Ali-Imran: 85:

« وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ »

Yang mana dalam ayat ini kata Islam terkait dengan nama dan sebutan bukan dengan sifat dan sikap.

Kedua: Hadits Nabi r yang menafsiri surat al-Fatihah tadi. Seandainya kita katakan bahwa setiap agama yang mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan adalah diterima, tentu tidak ada bedanya antara agama Islam, Yahudi, Nasrani dan agama keberhalaan , sebab para penyembah berhala itupun niatnya menyembah Allah, bukankah mereka mengatakan:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (al-Zumar: 3)

Jadi mereka mengaku bertaqarrub kepada Allah. Maka ini adalah ucapan batil dan rusak, kesesatan yang nyata dan telanjang di depan mata, tidak memerlukan bantahan. Namun demikian kami telah membantahnya.

Dalam hadits lain Nabi r bersabda:

« وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ».

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari umat ini apakah Yahudi atau Nasrani yang mendengar tentang aku kemudian ia mati dan tidak beriman kepada agama yang aku bawa melainkan ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).

Lalu bagaimana ucapan mereka yang mengklaim bahwa semua agama sama saja? Bagaimana mereka menyamakan antara yang haq dan yang batil?!

Sumber agama ini adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul r. Allah berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

Inilah al-Qur’an yang telah dikatakan oleh Allah:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ(42)

“Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (al-Taubah: 6)

Maka Kalam (firman Allah) adalah sempurna seluruhnya, tidak ada cela, cacat atau kurang. Kalam Allah adalah sifat Allah. Bila Allah Yang Pemilik sifat adalah Maha sempurna, maka sifatnya adalah sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun di dalamnya.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat al-Qur’an itu entah karena bodohnya atau sikap sok pintarnya mengatakan bahwa al-Qur’an adalah Muntaj Tsaqafi (produk budaya). Sungguh kebohongan besar yang muncul dari mulut mereka. Bagaimana mungkin al-Qur’an disamakan dengan buku-buku lain yang dikarang oleh manusia, sedangkan Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Al-Qur’an diturunkan Allah melalui Jibril ‘alaihis salam kepada hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

“Dan Kami turunkan (Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran.” (al-Israa’: 105)

Bagaimana mungkin al-Qur’an yang sempurna keseluruhannya sejajar dengan produk manusia yang penuh dengan kekurangan?. Seandainya ucapan ini keluar dari orang yang telah ditegakkan hujjah atasnya tentu ia menjadi kafir, akan tetapi kita memakluminya karena kebodohannya. Kami nasehatkan kepada orang-orang seperti ini agar bertakwa kepada Allah, ingat kematian, kebangkitan, pertemuannya dengan Allah Penguasa alam semesta, hisab, pahala dan siksa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَه

“Ingatlah sesungguhnya aku diberi al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya”. Yang semisal dengan al-Qur’an adalah al-Sunnah. Permisalan di sini bukanlah dalam kedudukan dan kesucian. Kalam Allah sesuai dengan kesucian Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan kalam Rasul-Nya sesuai dengan diri Rasul Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kesamaannya di sini adalah dalam bidang hukum; hukum-hukum al-Sunnah sama dengan hukum-hukum al-Qur’an, karena ia adalah wahyu seperti al-Qur’an.

Maka barangsiapa mencela sunnah, sebenarnya pukulan itu mengenai al-Qur’an sebelum al-Sunnah itu sendiri. Maka hendaklah ia bertaubat, kembali kepada akal sehatnya dan kembali kepada kebenaran. Sebelum datang waktu yang hanya berisi penyesalan, penyesalan yang tidak lagi berguna dan tidak pula didengar.

Akhirnya, saya akan menutup dengan dua perkara: yang satu bersifat umum, berkaitan dengan ceramah kita dan yang kedua bersifat khusus, berkaitan dengan Perguruan Tinggi Sunan Ampel.

Setelah kita jelaskan hakikat Islam –tidak ada satu agama yang diterima setelahnya dan bersamaan dengannya-, setelah kita jelaskan sumber-sumber agama Islam yaitu kitab Allah yang berisi hukum, hidayah dan Tasyri’. Setelah penjelasan tentang Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia adalah wahyu yang sama dengan al-Qur’an. Setelah penjelasan tentang akal dan kedudukannya yang amat tinggi dalam Islam untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah bukan untuk menghakimi dan menolak al-Qur’an dan Sunnah. Setelah penjelasan tentang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, kedudukan dan keutamaannya dan bahwa dia adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, saya mengatakan: “Di antara manhaj ilmi yang benar yang wajib diketahui adalah al-Qur’an dan Sunnah harus kita pahami sesuai dengan pemahaman para Salaf Shalih. Secara ringkas saya sebutkan dua dalil berikut ini.

Allah berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا(115)

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS al-Nisaa’: 115)

Ini adalah isyarat kepada pemahaman lurus yang ada pada para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Karena itu wajib memahami al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para Salaf Shalih dan tidak boleh memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari pemahaman mereka.

Kedua, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sebaik-baik generasi manusia adalah generasiku kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya”.

Tidak mungkin Khairiyyah (nilai kebaikan) di sini dikaitkan dengan jaman, atau tempat, atau orang atau fisik. Akan tetapi kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan iman, kepatuhan, pemahaman, ilmu dan amal. Dan kebaikan ini ada pada tiga kurun yang utama tersebut agar menjadi pelita bagi generasi sesudahnya.

Tiga Fenomena yang Mempriahtinkan di IAIN

Terakhir, perkara yang khusus adalah: saya memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memudahkan adanya muhadharah ini. Namun saya sangat terheran-heran dan tidak habis pikir, Perguruan Tinggi yang dengan bangga menyematkan label Islam, di belakangnya ini, yaitu al-Jami’ah al-Islamiyyah bukan al-Jami’ah al-Mukhalifah lil Islam, bukan Perguruan Tinggi yang ingin menolak Islam, saya menemukan di dalamnya tiga fenomena yang memprihatinkan:

1. Banyak akhwat, Mahasiswi yang tidak mengenakan pakaian syar’i atau hijab Islami. Hijab yang dimaksud bukan hanya menutup kepala, tetapi menutup seluruh tubuh dan seluruh badan, tidak menampakkan bentuk tubuh dan perhiasan.

2. Banyak pemuda, Mahasiswa yang duduk-duduk dengan Fatayat. Tidak mungkin pemuda itu ayahnya, saudaranya, atau suaminya. Kalaupun ada paling satu di antara seratus, sedang sisanya apa yang dilakukan di Perguruan Tinggi Islam ini?!

3. Kita sekarang berada di rumah Allah, berdzikir kepada Allah menuntut ilmu Allah, dan saya sendiri datang dari jauh, dari balik Samudra Hindia, sementara saudara-saudara kita dengan santai ada yang duduk-duduk di pinggir jalan, ada yang di atas tangga, ada yang di halaman, ada yang di pojok sana dan pojok sini, mengapa tidak berkumpul di sini, di rumah Allah ini, mendengarkan dan mengikuti majelis ilmu, sesuai dengan do’anya: “Ya Rabb, tambahkan ilmu kepadaku”.

Harapan saya pada Institut (Agama Islam Negeri) Sunan Ampel ini, semoga pada kunjungan saya yang akan datang fenomena yang “menakjubkan” ini dapat dihilangkan atau dapat diminimalisir semaksimal mungkin.

Dr. Muhammad Musa Alu Al-Nashr

Demikian acara di IAIN Surabaya.

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 19 April 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: