Tetap Mengaji, (Wahai Ikhwan) Oleh DR. Erwandi Tarmizi, MA


Image(Oleh DR. Erwandi Tarmizi, M). Di pinggiran kota Madinah tempat Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu tinggal, dia memiliki seorang tetangga yang berasal dari kaum Anshar. Tetangganya ini telah merasakan manisnya cita rasa keimanan, tidak jauh berbeda dengan shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang lain. Cita rasa yang selalu menggelora untuk ingin selalu duduk bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendengarkan langsung petuah-petuah beliau yang menggetarkan jiwa, menghilangkan nestapa, rindu akan kehidupan baqa dan melihat kehidupan yang fana dari sisi yang sebenarnya. Di sisi lain, 2 orang yang bertetangga ini bukan seorang pegawai, karyawan maupun pekerja yang setiap akhir bulannya yakin akan menerima gaji yang dapat menutupi kebutuhan sehari-hari, akan tetapi mereka adalah orang yang bekerja di satu hari untuk menghasilkan makanan sekedar menutupi kebutuhan pokok selama 1 atau 2 hari berikutnya. Mereka terpaksa berhadapan dengan kenyataan antara tuntutan imaniyyah yang menggebu-gebu melepas kerinduan bersimpuh di halaqah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersama para shahabat lainnya dan tuntutan jasmaniyyah yang harus dipenuhi.

Akhirnya, 2 orang shahabat yang bertetangga ini membuat kesepakatan: bergantian duduk bersila di majelis nabi, hari ini Umar yang pergi ke Masjid Nabawi, tetangganya pergi ke kebun dan keesokan harinya giliran tetangganya yang pergi mengaji dan Umar yang pergi mengais rezeki, di malam harinya mereka duduk bersama berbagi ilmu dan imaniyyah yang dirasakannya hari ini kepada tetangganya yang berhalangan hadir. (lihat: shahih Bukhari, bab: bergantian menuntut ilmu).

Cuplikan keteguhan 2 shahabat rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengaji ini mengundang rasa keingintahuan kita untuk mengungkap rahasianya, apa sih sebetulnya yang mereka dengar dari Nabi sehingga mau berkorban sedemikian rupa demi ikut mengaji? 

Mungkin kisah Hanzalah dengan Abu Bakar radhiyallahu ’anhuma dapat menjelaskan jawabannya.

Hanzalah bin Ar Rabi’ adalah seorang juru tulis Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ia berkisah: “Aku bertemu dengan Abu Bakar”,

Lalu Abu Bakar menyapa seraya berkata: “Bagaimana kabarmu Hanzalah?”, 

Hanzalah: “Hanzalah telah menjadi seorang munafik”,

Abu Bakar berkata: “Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?!

Hanzalah: “Ketika berada bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beliau selalu mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya, lalu ketika aku keluar dari hadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, aku disibukkan oleh istri, anak-anak dan mencari nafkah, aku menjadi lupa peringatan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam!

Abu Bakar berkata: “Demi Allah, aku juga merasakan hal yang sama”.

Lalu Hanzalah bersama Abu Bakar berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam .

Hanzalah berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, Hanzalah telah menjadi seorang munafik!
Rasulullah bersabda: “Kenapa?”, 
Hanzalah berkata: “Wahai Rasulullah, “Ketika berada di sisimu, engkau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah kami melihatnya, lalu ketika kami keluar dari hadapanmu, kami disibukkan oleh istri, anak-anak dan mencari nafkah, sehingga kami menjadi lupa peringatanmu.

Rasulullah bersabda: “Demi yang jiwaku di tangan-Nya, andai keadaan kalian tetap seperti ketika kalian di sisiku dan terus berzikir niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, sedang kalian berada di atas tempat tidur dan di jalan raya, akan tetapi wahai Hanzalah, ada waktumu (untuk beribadah) dan ada waktumu (untuk duniamu)”. HR. Muslim.

Gambaran kesyahduan majlis Rasulullah juga dilukiskan oleh `Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu:

`Irbadh menuturkan: “Suatu saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi  kami  nasehat yang sangat menyentuh sehingga qalbu bergetar dan air mata berlinang, 

Kami berkata: “Wahai Rasulullah! sepertinya ini nasehat perpisahan? berwasiatlah kepada kami.” 

Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, serta taat dan mendengar perintah pemimpin sekalipun ia seorang budak Habsyi dan siapa di antara kalian yang diberi umur panjang, kelak ia akan melihat banyak pertikaian! Maka berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah para khulafarasyidin yang mendapat hidayah Allah, peganglah erat-erat!(seperti) menggigit dengan geraham, dan hindarilah amalan yang tidak kucontohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan”. HR. Abu Daud dan Tarmizi.

Anas radhiyallahu ’anhu juga memaparkan kekhusuan khutbah suasana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: 

Anas menuturkan: “ Suatu saat Rasulullah berkhutbah kepada kami, suatu kuthbah yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, ia bersabda: “Andai kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.

Lalu para sahabat Rasulullah menutupi muka dan mereka mengeluarkan suara isakan tangis tersedu-sedu”. Muttafaq ’alaih.

Duhai, manisnya cita rasa keimanan yang mereka rasakan. 

Patut kiranya, bila suasana imaniyyah yang begitu mengharu-biru ini terlewatkan mereka akan merasa gundah dan gelisah.

Di suatu hari setelah Rasulullah wafat, Umar bin Khattab melihat Thalhah radhiyallahu ’anhuma bersedih, murung, diam seribu bahasa.

Dengan penuh rasa penasaran dan keinginan menghibur shahabatnya Umar bertanya,” Apa  gerangan yang membuatmu bersedih, wahai sahabatku?    

Thalhah menjawab dengan suara lirih,” Kesempatan untuk bertanya telah hilang … aku terlambat menghadiri salah satu majelis Rasulullah, aku hanya mendengar potongan akhir wejangan beliau … “Siapa yang di akhir ucapannya mengucapkan kalimat ini … maka buku catatan amalnya bercahaya, ruh dan jasadnya akan merasa bahagia” … aku tidak sempat menanyakan, apa ucapan tersebut”.

Umar menjawab,” Aku menghadirinya dari awal … ucapan tersebut adalah lâ ilâha illa Allah”.

Syahdan seketika, keceriaan menyapa wajah Thalhah. (lihat Musnad Imam Ahmad).

Oleh karena itu rasanya kurang bijak, bila melihat gejala berkurangnya minat orang-orang menghadiri pengajian, lantas para ustadz, kyiai dan alim ulama menyalahkan umat. Mungkin selain itu, perlu juga para pengemban risalah Islam mengkaji ulang apa yang mereka sampaikan dan metoda penyampaiannya. Sejauhmana sentuhannya untuk meningkatkan wawasan, menawarkan penyakit qalbu serta menentramkan jiwa yang sedang merana.

Semoga yang menyampaikan, yang mendengarkan dan yang hadir dalam sebuah pengajian benar-benar merasa sedang berada di taman-taman surga.

sumber: http://www.pks-arabsaudi.org

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 24 April 2012, in Nasehat, Sirah, Tazkitun Nufus and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu alaikum,artikel yg penuh dengan hikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: