Monthly Archives: Juni 2012

Video Habib Curhat Kepada Ahli Kubur_Inikah Agama Yang Lurus???


Video ini berisikan tentang seorang Habib terkenal sedang melakukan kesyirikan, yaitu meminta-minta kepada kuburan (orang yang sudah mati). Nama Habib tersebut dirahasiakan, tapi bagi yang sering berinteraksi dengan para Habaib niscaya mengenal Habib tersebut, khususnya yang sering kumpul di Markaz Habaib di Al Busyro, CItayam (sebelah Bojonggede, Bogor).

Sumber video didapat dari teman ana (nama dirahasiakan), dan teman ana ini di dapat langsung dari temannya yang merekam video tersebut.

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?v=2272419987307

Iklan

Tentang Harato Pusako Tinggi di Minangkabau


Perbedaan pendapat tentang harta pusako ini sebenarnya telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Beliau mengarang sebuah kitab berjudul : Ad Doi’ al Masmu’ fil Raddi ‘ala Tawarisi al ‘ikwati wa Awadi al Akawati ma’a Wujud al usuli wa al Furu’i,yang artinya : Dakwah yang didengar Tentang Penolakan Atas Pewarisan Pewarisan Saudara dan anak Saudara Disamping Ada Orang Tua dan Anak. Kitab itu di Tulis di Mekah pada akhir abat ke XIX. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 275).  Namun, beliau berbeda pendpat dengan murid beliau seperti Syekh Dr.H.Abd.Karim Amrullah.

Murid beliau Syekh Rasul ( H.Abdul Karim Amrullah ) – ulama yang belakangan  ini melihat harta pusaka dalam bentuk yang sudah terpisah dari harta pencarian. Beliau berpendapat bahwa harta pusaka itu,  sama keadaannya dengan harta wakaf atau harta musabalah yang pernah diperlakukan oleh Umar ibn Kattab atas harta yang didapatnya di Khaybar,  yang telah dibekukan tasarrufnya dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penyamaan harta pusaka dengan harta wakaf tersebut walaupun ada masih ada perbedaannya, adalah untuk menyatakan bahwa harta tersebut tidak dapat diwariskan. Karena tidak dapat diwariskan, maka terhindarlah harta tersebut dari kelompok harta yang harus diwarisklan menurut hukum Faraid; artinya tidak salah,  kalau padanya tidak berlaku hukum Faraid.

Read the rest of this entry

“Bagaimana Pembagian Pusaka Tinggi, Sudah Sesuaikah Dengan Syariat Islam di Minangkabau?”


Oleh : DR. Mochtar Naim

Di Minangkabau dikenal ada tiga macam harta, yaitu :

* harta pusaka tinggi,

* harta pusaka renda,  dan

* harta milik pribadi, atau harta pencaharian.

Harta Pusaka Tinggi,   biasanya selalu berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, perkolaman, persawahan, perladangan, perkampungan, perhutanan, dsb, bersalin secara kolektif-alami turun temurun menurut garis ibu (matrilineal), menurut jalur kaum, suku ataupun nagari, dan tidak dibagi.

Fungsinya adalah sebagai harta waqaf  : harta waqaf kaum, suku ataupun nagari. Jadi harta pusaka tinggi yang fungsinya sebagai harta waqaf tidak dimakan bagi. Kalau dibagi justeru salah. Read the rest of this entry

Tuanku Nan Renceh Penegak Syariat Islam di Ranah Minang


PANGMA kaum paderi yang tegas dan penuh wibawa. Berhasil melaksanakan pemurnian Islam ke setiap nagari di Ranah Minang, sampai-sampai kewajiban menunaikan shalat dikontrol sangat ketat

Kejayaan Islam di Ranah Minang (Sumatera Barat) pernah mencapai puncaknya ketika kaumpaderi (ulama) dipimpin oleh ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh. Kekuasaannya menghunjam sampai lembaga pemerintahan nagari yang diberi hak otonom oleh Kerajaan Minangkabau. Kerajaan tersebut kala itu berpusat di Pagaruyung.

Pusat kekuasaan kaum paderi sendiri berada di teritorial Luhak (Kabupaten) Nan Tuo, yakni Luhak Agam, Tanah Datar, dan Luhak Nan Limopuluah Dikoto. Atau, seluas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kabupaten 50 Kota sekarang. Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: