Monthly Archives: Juni 2012

Mana Yang Lebih Utama Jadi Imam Shalat, Yang Berjenggot dengan Sedikit Hafalannya atau Yang Mencukur Jenggot dengan Banyak Hafalannya?


Mana Yang Lebih Utama Jadi Imam Shalat ? Yang Berjenggot dengan Sedikit Hafalannya, atau Yang Mencukur Jenggot dengan Banyak Hafalannya. (Fatwa no. 3816) :

Pertanyaan:
Ada seorang laki-laki yang dia seorang penghafal qur’an, akan tetapi dia tidak memilki jenggot (karena sengaja dicukur, pen).

Dan ada laki-laki lain yang memiliki hafalan qur’an yang sedikit (dibandingkan lelaki yang tadi) dan dia memiliki jenggot (yang dibiarkan/ tidak dicukur, pen). Lalu siapakah diantara keduanya yang didahulukan untuk menjadi Imam pada saat shalat ?

Jawaban :

Segala puji hanyalah milik Allah,
Yang didahulukan untuk menjadi imam pada saat shalat tersebut adalah orang yang memilki jenggot (yang dibiarkan/ tidak dicukur, pen) meskipun memiliki hafalan yang sedikit dibandingkan atas orang yang mencukur jenggotnya meskipun dia pengahafal al-qur’an.

Dikarenakan sesungguhnya orang yang pertama tadi bukanlah orang yang berdosa dengan sedikit hafalannya sedangkan orang yang kedua tadi dia berdosa dengan mencukur jenggotnya

Dan Allahlah yang memberikan taufik (petunjuk), semoga Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan para sahabatnya.

Dewan Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa.
Ketua : Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz
Wakil ketua : ‘Abdurrazzaq ‘afifi

Sumber : www.al-eman.com/الفتاوي/أيهما أفضل الإمام الحليق الحافظ أم الإمام الملتحي الذي يحفظ قليلا/i3816&rs&p7

Batasan Aib Dalam Pernikahan


Tidak ada gading yang tak retak. Itulah kalimat pepatah yang mungkin paling layak untuk dijadikan prinsip ketika hendak menentukan pasangan. Bahkan terkadang masing-masing pihak bersih kukuh mempertahankan prinsip idealisme perfectionits, yang justru memperpanjang usia bujang.

Di sisi lain, ada juga pasangan yang menikah melalui proses ta’aruf yang sangat singkat atau proses ta’aruf dengan data yang sangat terbatas. Setelah layar terkembang, masing-masing saling mengenal sifat dan karakter pasangannya, muncullah berbagai permasalahan. Bahkan sampai ada yang merasa tertipu dengan pasangannya. Mungkin pernah kita jumpai ada suami yang mengembalikan istrinya kepada orang tuanya, karena merasa ada aib besar pada istrinya, dan sebaliknya. Read the rest of this entry

Musik Islami


Pertama, dalam Islam, tidak ada istilah musik Islami, walaupun istilah itu diucapkan oleh sebagian orang Islam. Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân hafizhahullah- pernah mendapatkan pertanyaan semacam ini:

“Banyak pembicaraan tentang nasyid-nasyid Islami, di sana ada yang memfatwakan boleh. Ada juga yang menyatakan, nasyid-nasyid Islami itu sebagai ganti kaset-kaset nyanyian. Bagaimanakah pendapat Anda, (wahai Syaikh) yang terhormat?”

Syaikh Shâlih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab :

“Penamaan ini tidak benar. Itu merupakan penamaan baru. Di kitab-kitab Salaf dan para ulama yang perkataannya terpercaya, tidak ada yang dinamakan dengan nasyid-nasyid Islami itu. Yang dikenal, bahwa orang-orang Shufi-lah yang telah menjadikan nasyid-nasyid sebagai agama bagi mereka. Itulah yang mereka namakan dengan samaa’. Adapun pada zaman kita ini, ketika banyak golongan dan kelompok, sehingga setiap kelompok memiliki nasyid-nasyid yang menjadikannya sebagai pemberi semangat. Mereka terkadang memberinya nama dengan “nasyid-nasyid Islami”.[1] Penamaan ini tidak benar. Oleh karenanya, tidak boleh memiliki nasyid-nasyid, dan meramaikannya di tengah masyarakat. Wabillahit-taufiq. [2] Read the rest of this entry

Keutamaan Mencintai Orang Miskin


Ada sebuah do’a yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang isinya: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin … (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu sifat mencintai orang miskin). Dari do’a ini saja menunjukkan keutamaan seorang muslim mencintai orang miskin. Lalu kenapa sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berdo’a sedemikian rupa? Apa gerangan dengan si miskin? Mencintai orang miskin adalah tanda ikhlasnya cinta seseorang. Karena apa yang dia harap dari si miskin? Si miskin tidak memiliki materi atau harta yang banyak. Beda halnya dengan seseorang mencintai orang kaya, pasti ada maksud, ada udang di balik batu. Dan kadang maksud mencintai orang kaya tadi tidak ikhlas. Inilah di antara alasan kenapa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a yang demikian kepada kita.

Mari kita lihat penjelasan mengenai hadits yang kami maksudkan di atas. Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Muhammad, jika engkau shalat, ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza arodta fitnata qowmin fatawaffanii ghoiro maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba ‘amalan yuqorribu ilaa hubbik (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin,ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu)”. Dalam lanjutan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyebutkan, “Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah”. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: