Filsafat Merusak Umat !


tuhan apa agamanya(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI)

Ilmu logika, mantik, dan filsafat dikenal masuk ke dalam tubuh kaum muslimin di zaman dinasti Abassiyyah. Yaitu di saat Yahya bin Khalid bin Barmak, salah seorang menteri Harun Ar-Rasyid, meminta buku-buku Yunani dari raja Romawi. Waktu itu, buku-buku tersebut disimpan dan tidak ditampakkan kepada orang-orang Nashara secara umum. Karena dikhawatirkan akan membawa kepada kesesatan. Tetapi dengan adanya permintaan dari kaum muslimin tersebut, dengan segera raja Romawi mengirimkan buku-buku Yunani itu kepada sang menteri. Mereka berharap dapat terlepas dari bahaya buku-buku tersebut, dan agar kandungan buku-buku itu merusak keadaan kaum muslimin! Salah seorang dari mereka mengatakan: “Tidaklah ilmu-ilmu ini masuk ke suatu negara kecuali akan merusakkannya dan memecah-belah ulamanya!!”

Dari sana tersebarlah ilmu filsafat pada sebagian kaum muslimin. Kemudian pada zaman Tartar menguasai daerah Islam, Nashiruddin Ath-Thusi mendirikan perguruan Dar Hikmah. Para pelajar (santri) yang mempelajari filsafat mendapatkan gaji 3 dirham setiap hari. Dia juga mendirikan Dar Thib, orang yang belajar kedokteran di sana mendapatkan gaji 2 dirham setiap hari. Begitu pula dia mendirikan Dar Hadits, orang yang belajar hadits di sana mendapatkan gaji 1/2 dirham setiap hari. Hal ini memacu berkembangnya filsafat di kalangan kaum muslimin.

Tetapi bagaimana sebenarnya sikap Islam terhadap ilmu-ilmu baru ini? Kita telah tahu, agama Islam telah lengkap dan sempurna, sehingga tidak membutuhkan tambahan apapun, termasuk ilmu filsafat ini! Kita telah tahu, generasi sahabat adalah generasi terbaik dan mereka tidak mengenal filsafat! Kita telah tahu, ilmu filsafat ini muncul dari orang-orang mulhid dan musyrik, mengapa umat Islam harus mengambilnya?! Kita telah tahu, filsafat ternyata tidak membawa kepada keyakinan, bahkan menjerumuskan kepada keraguan dan kegoncangan. Kita telah tahu, filsafat ternyata menyebabkan perselisihan dan perpecahan serta kemunduran kaum muslimin.

Dan kita harus tahu, para ulama Ahlu Sunnah sepakat membantah ilmu ini. Ketika ditanya tentang permasalahan filsafat, Abu Hanifah rahimahullâh menjawab: “Itu adalah perkataan-perkataan ahli filsafat, hendaklah kamu berpegang dengan atsar (sunnah) dan jalan As-Salaf. Dan jauhilah setiap yang baru, karena hal itu bid’ah!”. Beliau juga menyatakan: “Aku dapati ahli kalam, mereka memiliki hati yang keras dan kasar. Mereka tidak peduli (ucapan maupun perbuatan mereka) bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Mereka tidak memiliki sikap wara’ dan taqwa.” (Siyaru A’lamin Nubala 6/399)

Imam Syafi’i rahimahullâh berkata: “Tidaklah manusia menjadi bodoh dan berselisih, kecuali karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan cenderung kepada bahasa Aristoteles”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata: “Ulama kaum muslimin dan Imam-imam agama terus-menerus mencelanya (ilmu kalam/filsafat) dan mencela orang-orangnya. Mereka melarangnya dan melarang (mendekati) orang-orangnya. Sampai aku melihat fatwa para ulama muta-akhirin, di sana terdapat tulisan tokoh-tokoh di zaman mereka, dari kalangan Imam-imam Syafi’iyyah, Hanafiyah, dan lainnya. Di dalam fatwa itu terdapat perkataan agung tentang pengharamannya dan hukuman terhadap orang-orangnya.” (Naqdhul Manthiq, hal:156)

Demikian juga fatwa Ibnush Shalah rahimahullâh tentang pengharaman ilmu filsafat/kalam sangat masyhur. Beliau menyatakan: “…Adapun ilmu mantiq merupakan pengantar ilmu filsafat. Sedangkan pengantar keburukan adalah keburukan. Menyibukkan diri dengan mempelajarinya dan mengajarkannya tidak dibolehkan. Dan tidak ada seorangpun dari kalangan Sahabat, Tabi’in, Imam-imam Mujtahidin, Salaf yang shalih dan orang-orang yang menjadi panutan dari tokoh-tokoh umat ini yang membolehkannya.” (Fatawa Ibnu Shalah, hal: 34-35)

Setelah semua hal ini jelas, maka alangkah mengherankan munculnya kelompok-kelompok kaum muslimin yang menyerukan untuk mengusung filsafat melebihi ilmu lainnya! Bahkan memberikan label mentereng dengan istilah filsafat Islam. Menyerukan Islam yang terbuka, Islam Liberal, dan istilah-istilah lainnya yang tidak dikenal oleh agama yang lurus ini! Maukah mereka kembali? Semoga.

Sumber:http://majalah-assunnah.com/index.php/tajuk/314-filsafat-merusak-umat

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 27 Maret 2013, in Manhaj and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: