TUANKU IMAM BONJOL TELADAN UMAT DAN PAHLAWAN NASIONAL


ترجمة رسالة
مَن إمام بُنجول؟
لأبي أحمد محمد بن سليم الأندونيسي اللِّمبوري
إلى اللغة الأندونيسية
TUANKU IMAM BONJOL
TELADAN UMAT DAN PAHLAWAN NASIONAL
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Andunisy Al-Limbory
-Semoga Allah menjaganya dan melindunginya-
بسم الله الرحمن الرحيم

. الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

Dengan menyebut nama Allah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) lagi Ar-Rahiim (Maha Penyayang) Segala puji hanya bagi Allah yang telah mengutus Rasul (utusan)-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas agama seluruhnya dan cukuplah Allah sebagai saksi, dan aku bersaksi bahwa sungguh tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa sungguh Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Adapun sesudah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -semoga shalawat Allah atasnya dan keselamatan-, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan: ﴿

إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآَتٍ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ﴾ [الأنعام: 134]

Dan (sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya” (Al-An’am: 134).

Maka sesungguhnya ketika aku mendengar sebagian orang-orang sufi di Indonesia berbicara tentang Imam Bonjol Al-Andonesy –semoga Allah merahmatinya- bahwa dia adalah Wahhaby[1] maka aku tertarik untuk menulis ringkasan yang aku sebutkan didalamnya tentang kisah beliau[2]. Dan murid-murid Syaikhul Islam Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –semaga Allah merahmatinya- sangatlah banyak tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dan dikatakan: “Diantara murid-muridnya adalah Asy-Syaikh Syarif bin Bayanuddin Al-Bonjoly Al-Andunisy –semoga Allah merahmati keduanya[3], lahir pada tahun 1772 M di kota Bonjol-Sumatra-Indonesia. Dan gelarnya (sebagai) Imam Bonjol karena beliau adalah pendiri markiz dakwah tauhid di kota Bonjol, dan beliau belajar kepada ayahnya dan sebagian ulama dari murid-murid Syaikhul Islam Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul wahhab di kota Bonjol. dan dia (Bonjol) adalah kota yang dikenal di negeri Sumatra-Indonesia, kemudian beliau (Imam Bonjol) berkunjung ke rumah Allah (Ka’bah) di Makkah untuk berhaji, dan beliau belajar kepada para ulama di Masjidil Harom di Makkah, setelah itu beliau kembali ke Bonjol untuk berdakwah (mengajak) kepada (agama) Allah. Dan sungguh Allah –Subhanah– telah memerintahkan bagi siapa yang mempunyai ilmu untuk menyeru kepada jalan-Nya, Berkata –Subhanah-:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾ [يوسف: 108

“Katakanlah inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah di atas bashiroh (ilmu), aku dan siapa yang mengikutiku dan Maha Suci Allah dan tidaklah aku termasuk orang-orang musyrik (yang meyekutukan Allah)” (Yusuf: 108).

Dari Abdillah bin ‘Amr bin Al-‘Ash –semoga Alloh meridhainya-: bahwasanya Nabi –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– berkata: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً» “Sampaikanlah oleh kalian dariku walaupun satu ayat” (Diriwayatkan Bukhary dan Ahmad). Maka tersibukanlah Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya- dengan ta’lim dan pembinaan dan dakwah kepada Allah dan mengajak manusia kepada kebaikan dan kecintaan karena Allah, dan tersiarlah perihalnya di kota Bonjol sampai berdatanganlah kepadanya manusia dari daerah tetangga.

Warga Bonjol sebelum dakwah Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya– dalam suatu keadaan yang tidak akan diridhai oleh orang-orang yang beriman; kesyirikan, bid’ah dan maksiat telah tumbuh di Bonjol dan merebak sampai menyembah selain Allah, orang-orang berdo’a kepada wali-wali, dan mereka meminum khamr (minuman keras) dan melakukan perbuatan-perbuatan keji, dan merebak di Bonjol sihir dan perdukunan, maka ketika Imam Bonjol melihat kemunkaran tersebut maka terus-meneruslah Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya- dalam dakwah kepada Allah dan dengan ta’lim dan pembinaan, kemudian para pelaku kemunkaran marah terhadap dakwahnya –semoga Allah merahmatinya-, sampai terjadi peperangan antara mereka (para pelaku kemunkaran) dan antara Ahli Tauhid (pengikut Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya-, dan mereka (para pelaku kemunkaran) menamakan diri dengan kaum Adat dan Ahli Tauhid (mereka namakan) dengan kaum Padri (menurut penduduk Bonjol: Padri artinya santri/penuntut ilmu), maka dengan sebab peperangan tersebut terbunuh banyak dari kaum Adat dan yang tersisa dari mereka pergi ke orang-orang kafir (penjajah) dari Belanda dan meminta dari mereka tentara-tentara dan persenjataan-persenjataan maka dipenuhilah permintaan mereka, sampai berkumpullah kaum Adat dan orang-orang kafir (penjajah) dari Belanda dalam memerangi Ahli Tauhid, dan berlangsunglah peperangan dari tahun 1821 M sampai 1837 M.

Dan sungguh Allah Ta’ala telah menerangkan akan keadaan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagaimana di dalam Al-Qur’an:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾ ()~١١٢

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (Al-An’am: 112)

Dan Allah Ta’ala berkata:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ﴾[البقرة: 120

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu naka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (Al-Baqoroh: 120)

Pada akhir tahun 1837 M berkumpullah Kafir Belanda dan Musyrikin Adat pada terakhir kalinya, mereka menyerang kota Bonjol dan membunuh banyak dari penduduk kota, merampas harta-harta, (menawan) anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan dan para wanita serta menyiksa dan memenjara Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya-[4] dari tahun 1837 M sampai wafat Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya- di tahun 1864 M. Dan sejak itu terputuslah dakwah Tauhid di kota Bonjol khususnya dan di Indonesia pada umumnya[5]. Maka kisah ini teranggap sebagai pelajaran kepada Ahli Tauhid, jika terjadi peperangan maka sepantasnya sebagian mereka untuk keluar berjihad di jalan Allah dan sebagian yang lain keluar ke tempat ulama untuk memperdalam ilmu agama, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾ [التوبة: 122].

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu semuanya pergi (ke medan perang),kalaulah ada dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang pergi untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan supaya mereka memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu terperingatkan”. (At-Taubah: 122).

Dan kami memohon hanya kepada Allah Ta’ala untuk memperbaiki penerus yang tersisa dari keluarga (anak-cucu) Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya- dan dari kaum Muslimin seluruhnya di kota Bonjol dan selainnya dan memahamkan mereka semua kepada apa-apa yang diridhai-Nya dan menunjuki kami dan mereka ke jalan-Nya yang lurus.

مَن إمام بُنجول؟
كتبه:
أبو أحمد محمد بن سليم الأندونيسي اللمبوري
-حفظه الله ورعاه-

[1] Wahhaby adalah julukan jelek yang dituduhkan oleh kaum adat (sufiisme) terhadapAhlussunnah wal Jama’ah, mereka beranggapan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah yang dakwahnya tersebar di Tanah Air Indonesia mulai dari zaman Tuanku Imam Bonjol –semoga Allah merahamtinya- sampai pada zaman ini tidak lain bersumber dari dakwah Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy –semoga Allah merahmatinya-.
[2] Ringkasan tentang kisah Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya- ini terdapat pula di situs (www.aloloom.net) dan di dalam tulisan kami:

العقيدة السليمة على الأصول الستة العظيمة

Al-‘Aqidatus Salimah ‘alal Ushulissittatil ‘Azhimah”, yang dimuat pula di situs (www.aloloom.net).
[3] Penisabatan bahwa Imam Bonjol (Asy-Syaikh Syarif bin Bayanuddin) *–semoga Allah merahmatinya- adalah muridnya Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah merahmatinya- ini perlu ditinjau lagi, karena jarak kelahiran keduanya sangat jauh. Namun yang lebih mendekati kebenaran Imam Bonjol Syarif bin Bayanuddin belajar agama dengan murid-murid Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab *–semoga Allah merahmati mereka semuanya-.

[4] Beliau –semoga Allah merahmatinya- ditawan dan dibawa kebeberapa daerah di wilayah Nusantara, beliau –semoga Allah merahmatinya- dibawa ke Ambon dan Manado, beliau –semoga Allah merahmatinya- terus ditawan hingga sampai akhir hayatnya –semoga Allah merahmatinya dan semoga Allah memunculkan generasi baru sebagai pengganti dan penerus perjuangannya di bumi Nusantara Tanah Airku-.

[5] Setelah kota santri dan pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol *–semoga Allah merahmati mereka- berhasil diruntuhkan oleh kaum Adat (Shufiisme) dan penjajah kafir-Belanda maka muncullah adat istiadat dan ajaran-ajaran yang semakin aneh, yang awalnya kaum muslimin berbusana muslim dan tampak ciri khas yang islami, yang para laki-laki; berjubah, bersurban, memelihara jenggot dan berpakaian di atas mata kaki, para wanita berjilbab hitam dan bercadar tiba-tiba berubah total, keadaan berubah kembali seperti zaman sebelum adanya dakwah Imam Bonjol –semoga Allah merahmatinya-, kota santri yang semarak dengan dakwah dirubah menjadi kota yang terjajah, pendidikan di pesantren dirubah menjadi pendidikan yang kebarat-baratan yang pada akhirnya ajaran Islam yang murni terkikis –hanya kepada Allah kami memohon keselamatan

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 3 September 2013, in Biografi, Dunia Islam and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: