Taat pada Pemimpin Walau Penuh Derita


istna negaraTaat pada Pemimpin Walau Penuh Derita

Inilah yang diwasiatkan oleh Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Rasul itu ditaati bukan hanya ketika senang saja atau ketika menyenangkan kita. Namun saat susah pun, pemimpin tetap ditaati, saat ditindas pun tetap didengar selama ia tidak memerintahkan dalam maksiat. Dan seandainya saudara kita yang biasa menyuarakan slogan anti pemerintah dan ingin memberontak mau mendengar wasiat baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka akan meraih maslahat yang besar. Taatlah pada Pemimpin dalam keadaan senang maupun susah atau penuh derita.

Ini salah satu hadits yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin ketika membawakan judul Bab “Wajibnya Mentaati Pemimpin dalam Perkara yang Bukan Maksiat dan Haramnya Mentaati Mereka dalam Perkara Maksiat.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ

Hendaklah engkau dengar dan taat kepada pemimpinmu baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah, baik dalam keadaan rela ataupun dalam keadaan tidak suka, dan saat ia lebih mengutamakan haknya daripada engkau.” (HR. Muslim no. 1836).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

  1. Yang dimaksud taat ketika susah dan senang adalah taat kepadanya ketika dalam keadaan engkau fakir atau engkau berkecukupan. Berarti ketika rakyat dimakmurkan, tetap taat pada pemimpin dan ketika rakyat sengsara atau penuh derita, tetap juga taat.
  2. Hadits ini menunjukkan taat kepada pemimpin dalam setiap urusan selain dalam hal maksiat atau dalam hal yang tidak mampu dilaksanakan.
  3. Hadits ini menerangkan bahwa ada sifat pemimpin yang lebih mengutamakan urusan dunia dan menghalangi hak-hak rakyatnya. Pemimpin seperti ini tetap wajib ditaati selama ia tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat.

Hanya Allah yang memberi taufik.

ReferensiBahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 657.

Disusun di pagi hari penuh berkah, 17 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (muslim.or.id)

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 19 Oktober 2014, in Akhlak, Aktualita, Manhaj and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ya benar juga, kita harus taat pada pemimpin apalagi yang sesuai dengan jalannya, bukan maksiat dan ketidak benaran tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: