PENDAPAT BUMI MENGELILINGI MATAHARI TERBANTAHKAN


Bumi Pusat Alam SuryaTelah berabad-abad diajarkan di bangku pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari sekali dalam setahun, dan bumi juga berotasi sekali dalam sehari semalam yang mengakibatkan seakan-akan matahari bergerak dari timur ke barat setiap harinya.

Apakah ini sebuah kebenaran yang mesti kita yakini ataukah kita selama ini berada dalam sebuah kebohongan ilmiah?

Apakah memang bumi yang mengelilingi matahari ataukah malah sebaliknya bahwa bumi adalah pusat jagat raya sedangkan semua benda langit (termasuk matahari) mengelilingi bumi?

Berikut urian dari seorang Ulama Rabbani tentang ini.

Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: ” Apakah Matahari berputar mengelilingi bumi? “.

Jawaban: 

” Dzahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa matahari-lah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dzahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dzahirnya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut.

1] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman tentang Nabi Ibrahim akan hujjahnya (Argumentasi Nabi Ibrahim) terhadap yang membantahnya tentang Rabb (Ketuhanan):

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat!”. (QS Al-Baqarah : 258).

Maka keadaan-keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dzahir (tekstual / ayat yang tersurat) bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, menurut ayat di atas.

2] Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- juga berfirman tentang Nabi Ibrahim:

“Kemudian tatkala dia (Nabi Ibrahim) melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan’!”. (QS Al-An’am: 78).

Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”.

3] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka berada di sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedangkan mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”. (QS Al-Kahfi: 17).

Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Allah berkata: “Gua mereka (permukaan bumi) condong darinya (matahari)!”. Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan dilalah firmanNya “(condong) dan menjauhi mereka)”.

4] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya“. (QS Al-Anbiya’: 33).

Ibnu Abbas -Radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu selalu berputar-putar dalam suatu garis peredaran seperti alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.

5] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat“. (QS Al-A’raf: 54).

Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.

6] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun!”. (QS Az-Zumar: 5).

FirmanNya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Allah berkata: “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”. Dan firman-Nya: “Matahari dan bulan, semuanya berjalan”, menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.

7] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengirinya“. (QS Asy-Syam: 1-2).

Makna “Mengiringinya (Bulan mengiringi matahari)” adalah datang setelahnya (Bulan datangnya setelah matahari), dan itulah dalil yang menunjukkan bahwasanya setiap hari matahari dan bulan berjalan (beredar) mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang beredar mengeliligi bulan dan matahari, tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bumi mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengelilingi bulan, karena matahari lebih tinggi dari pada bulan. Dan untuk menyimpulan ayat ini membutuhkan pengamatan.

8] Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan (beredar) di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (orbit-orbit bulan), sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua. Tidaklah mugkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS Yaa-Siin: 37-40).

Penyandaran kata ‘berjalan (beredar)’ kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu). Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu bukannya untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari; bulan; serta malam dan siang.

9] Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wassallam- berkata kepada Abu Dzar -Radhiyallahu ‘anhu- (salah seorang shahabat nya) ketika matahari telah terbenam:

Nabi Muhammad: “Hai Abu Dzar, apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi (terbenam)?”. Abu Dzar menjawab: “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia pergi (matahari terbenam) kemudian bersujud di bawah ‘arsy (singgasana Tuhan), kemudian minta izin lalu diijinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu tidak diijinkan. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari arah kamu datang (terbit)!’, lalu dia terbit dari arah barat (tempat terbenamnya) (ketika terjadi hari kiamat)“. (Hadits Shahih, Muttafaqun ‘Alayh) [1].

Perkataan-Nya: “Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbenamnya” sangatlah jelas sekali bahwa dia (matahari) itulah yang berputar mengelilingi bumi dengan perputarannya itu terjadinya terbit dan terbenam.

10] Hadits-hadits yang banyak tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka itu jelas tentang terjadinya hal itu dari matahari tidak kepada bumi.”

Boleh jadi disana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup tentang apa yang saya maksudkan. Wallahu Muwaffiq.”.

(Disalin dari Majmu’ Fatawa Arkanul Islam, edisi Indonesia Majmu’ Fatawa Solusi Problematika Ummat Islam Seputar ‘Aqidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah).

_____________________________________________________________

Foot Note: 

[1] Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, Kitab Bad’ul Khalqi, bab Shifat Asy-Syam Wal Qamar: 3199, dan Imam Muslim, kitab Al-Iman, bab Bayan Az-Zaman Al-Ladzi La Yuqbal Fihil Iman: 159 (Sumber: Situs Almanhaj.or.id).

Untuk pembahasan masalah ini sudah dijelaskan oleh Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf -Hafidzahullah-, dalam buku beliau yang berjudul: “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian Al-Qur’an dan As-Sunnah!”. Silahkan donlod kajian lengkapnya disini!: MATAHARI MENGELILINGI BUMI (BY USTADZ AHMAD SABIQ BIN ABDUL LATHIF ABU YUSUF)!

Wassalamu ‘alaykum wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuh.

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 11 Mei 2015, in Aktualita and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: