Sholat Tarawih antara Empat Empat dan Dua Dua Rakaat


sholat tarawih 4 rakaat atau 2 rakaatSholat Tarawih antara Empat Empat dan Dua Dua Rakaat

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، اللهم صل عل على محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وبعد :

Shalat tarawih adalah nama lain dari qiyamullail yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Ibn Hajar mengatakan: “Shalat yang dilakukan berjamaah pada malam-malam Ramadhan itu dinamakan tarawih karena pada awal mereka berkumpul melakukannya dengan beristirahat antara setiap selesai dua kali salam.1] Shalat tarawih pada bulan ramadhan disyari’atkan untuk dilakukan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه) 2]

 Dari Abi Huraiyrah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: barangsiapa menegakkan ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu. (Muttaqun ‘alaihi)

Rasulullah melakukan shalat tarawih dan memberikan dorongan kepada umatnya untuk mengerjakannya bersama imam, malahan ini pernah dilakukan pada zaman rasulullah berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abi Dzar beliau berkata:

صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

Kami berpuasa bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak mengimami kami, sampai tersisa tujuh hari dari bulan Ramadhan, lantas beliau shalat mengimami kami hingga seperti tiga malam, kemudian beliau tidak mengimami kami pada hari keenam, dan mengimami pada hari ke limanya hingga separo malam, lantas kami mengatakan kepada beliau: Wahai rasulullah kalau bisa engkau mengimami kami shalat sunat (tarawih) pada malam-malam yang masih tersisa ini, belau memjawab: sesungguhnya barangsiapa berdiri (mengerjakan shalat tarawih) bersama imam sampai imam selesai dituliskan baginya (pahala) qiyam layl. Kemudian beliau tidak mengimami kami sampai tersisa tiga hari, lantas beliau mengimami kami pada hari ketiga(dari hari tersisa), beliau mengajak keluarga dan istri-istrinya. Beliau mengimami kami sampai kami khawatir terhadap falah, aku (Jubair Ibn Nufair) bertanya: apa falah itu? Beliau (Abu Dzar) menjawab : Sahur. Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud 3], An-Nasaiy4], Ibn Majah dan al-Tirmizi 5], dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”.

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa qiyamullail disyariatkan dan dicontohkan oleh rasulullah. Bahwa shalat tarawih itu adalah qiyamullail pada bulan ramadhan. Imam Nawawi mengomentari hadits yang pertama dalam kitabnya beliau berkata: “Maksud dari qiyamullai adalah shalat tarawih, dan ulama telah sepakat terhadap dianjurkannya shalat itu.”[6]

Shalat ini dikerjakan di awal waktu setelah shalat isya ketika berlalunya sepertiga malam atau separo malam. Bahwa shalat ini dikerjakan sendiri-sendiri atau berjamaah. Shalat ini dilakukan di mesjid. Mengerjakannya dengan berjamaah lebih afdhal daripada mengerjakan sendiri.

Bagaimanakah cara rasulullah mengerjakannya? Apakah dua dua raka’at atau empat-empat raka’at? Apa saja dalil masing-masing pendapat ini?

Untuk mengupas masalah ini, penulis akan mencoba mengungkapkan dalil-dalil kedua pendapat, dan perkataan ulama dalam memahami dalil-dalil tersebut. Dan penulis disini hanya membahas tentang cara pelaksanaan shalat dan tidak membahas tentang jumlah rakaat shalat tarawih.

Shalat Tarawih empat-empat raka’at

Pendapat pertama mengatakan bahwa shalat tarawih dilakukan dengan cara empat rakaat, empat rakaat dan tiga rakaat untuk witir. Empat rakaat ini dilakukan dengan satu tahiyat dan satu salam. Kalau seandainya seorang ingin mengerjakan shalat tarawih 11 rakaat maka cukup dengan melakukan 3 kali salam yakni, empat rakaat lalu salam, empat rakaat lalu salam dan tiga rakaat lalu salam. Dalil atas cara pelaksaan seperti ini adalah hadis Asiyah sebagai berikut :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Said Ibn Abiy Said al-Maqburiy dari Abiy Salamah Ibn Abd Rahman bahwasanya dia memberitakan kepada Said bahwa ia bertanya kepada Aisyah semoga Allah meridhainya bagaimana shalat rasulullah pada bulan Ramadhan? Aisyah menjawab: Rasulullah tidak menambah di bulan Ramadhan dan tidak pula di selainnya melebihi sebelas rakaat, beliau shalat empat, maka jangan anda tanya tentang sempurna dan panjang (lama)nya, kemudian shalat empat, jangan anda tanya tentang sempurna dan panjang (lama)nya kemudian shalat tiga. Aisyah berkata: Aku bertanya: Ya rasulallah apakah engkau tidur sebelum witir? Rasulullah menjawab: wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidak tidur.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhariy7], Muslim8], Abu Dawud9], Al-Tirmiziy10], dan Al-Nasa’iy11]. Semua mereka meriwayatkan hadits ini dari jalur Malik, dari Said Ibn Abiy Sa’id al-Maqbury dari Abi Salamah Ibn Abd Rahman dari Aisyah. Maka Malik adalah madar atau makhraj hadits. Setelah diteliti dari semua ulama hadits yang meriwayatkan hadits ini di kitab-kitab, mereka memakai jalur yang disebutkan di atas. Dengan demikian hadits ini termasuk hadits gharib sesuai dengan pembagian hadits ahad kepada masyhur, aziz dan gharib.

Hadits ini adalah yang sudah diyakini keshahihannya, karena semua perawinya adalah tsiqah; Malik adalah imam malik, Said Ibn Abi Said Al-maqburiy adalah tsiqah12],Abu Salamah adalah tsiqah muktsir13].

Komentar terhadap hadits

Dari lafaz hadits di atas yang mengatakan : beliau shalat empat, maka jangan anda tanya tentang sempurna dan panjang (lama)nya, kemudian shalat empat, jangan anda tanya tentang sempurna dan panjang (lama)nya kemudian shalat tiga, dipahami bahwa beliau mengerjakan shalat empat rakaat dengan satu salam.

Ibn Hajar tatkala mengomentari hadits ini di dalam kitab fath al-bariy beliau mengalihkan kembali pembahasannya ke kitab al-Tahajjut. Setelah diteli di kitab tahajjut, beliau akhirnya mengalihkan pembahasannya kepada hadits Ibn Umar bahwa shalat malam itu dua dua.

Sementara Al-Nawawi dalam syarah muslim, mengatakan:  “beliau shalat empat, maka jangan anda tanya tentang sempurna dan panjang (lama)nya” maksudnya: “rakaat-rakaat itu mencapai titik terakhir dari kesempurnaan indah dan lamanya shalat beliau sehingga fenomena indah dan lamanya itu tidak membutuhkan lagi kepada pertanyaan dan penjelasan.”14]

Dalam ‘aun al-Ma’bud mengatakan: “shalat empat” artinya empat rakaat. Adapun apa yang telah berlalu dari penjelsakan bahwa beliau shalat dua- dua, kemudian satu rakaat, maka dipahami pada waktu lain, kedua perkara itu boleh.15]

Dalam Tuhfat al-Ahwazi syarah sunan Tirmizi : dipahami bahwa empat rakaat itu bersambung dan ini yang zohir (yang tampak dari lafaz hadits) dan dipahami bahwa empat rakaat itu terpisah namun pemahaman ini jauh (dari zahirnya) tetapi pemahaman ini sesuai dengan hadits : Shalat malam itu dua-dua raka’at. Hal itu yang dikatakan oleh pengarang Al-Subul, aku mengatakan, bahwa permasalahan ini seperti yang dikatakannya, …. (kemudian shalat tiga) Zohirnya rakaatnya terpisah.16]

Al San’aniy di dalam kitabnya Subulus Salam diwaktu mensyarah hadits ini mengatakan:

( يُصَلِّي أَرْبَعًا ) يُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُتَّصِلَاتٍ وَهُوَ الظَّاهِرُ وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مُنْفَصِلَاتٍ وَهُوَ بَعِيدٌ إلَّا أَنَّهُ يُوَافِقُ حَدِيثَ { صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى }17]

(Shalat empat) dipahami bahwa empat rakaat itu bersambung dan ini yang zohir (yang tampak dari lafaz hadits) dan dipahami bahwa empat rakaat itu terpisah namun pemahaman ini jauh (dari zahirnya) tetapi pemahaman ini cocok dengan hadits “Shalat malam itu dua-dua raka’at”.

Perkataan shan’aniy mengisyaratkan bahwa dalam lafaz empat-empat itu terdapat kemungkinan-kemungkinan. Hal ini menunjukkan ada peluang untuk ditafsirkan dengan cara yang berbeda, boleh jadi empat sekali gus dengan satu salam, atau dua dua artinya setiap dua raka’at tahiyat dan salam. Kemungkinan kedua ini sejalan dengan hadits yang menerangkan shalat malam dua-dua raka’at.

Di dalam fatwa al-Azhar18]  mengatakan :

وقولها : ” يصلى أربعا ” لا ينافى أنه كان يسلم من ركعتين ، وذلك لقول النبى صلى الله عليه وسلم ” صلاة الليل مثنى مثنى ” . وقولة ” يصلى ثلاثا” معناه أنه يوتر بواحدة والركعتان شفع . روى مسلم عن عروة عن السيدة عائشة قالت : كان رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يصلى من الليل إحدى عشرة ركعة، يوتر منها بواحدة، وجاء فى بعض الطرق لهذا الحديث : يسلم من كل ركعتين) . المفتي عطية صقر .مايو 1997)

Perkataanya : shalat empat : tidak berhilangkan bahwa beliau bersalam dari setiap dua raka’at, hal itu disebabkan oleh sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ” Shalat malam dua-dua. Dan perkataan : shalat tiga artinya beliau witir dengan satu rakaat dan dua rakaat adalah bilangan genab. Muslim meriwayatkan dari Urwah dari Aisyah ia mengatakan : beliau shalat malam 11 rakaat di antaranya witir satu rakaat, dan di sebagian jalur hadits ini mengatakan: beliau salam dari setiap dua rakaat. (Mufti Athiyah Shaqr, Mei 1997)

Fatawa di atas lebih menjelaskan bahwa bilangan empat tidak mutlak, maksudnya mutlak empat rakaat yang bersambung tapi boleh jadi dua dua rakaat. Hal ini juga disenyalir oleh as-Sha’aniy di subulus salam sebagaimana di atas.

Abdullah Bassam dalam mensyarah atau mengomentari hadits ini, dan setelah mencantumkan kedua kemungkinan seperti disebutkan oleh Al-Shan’aniy mengatakan: boleh jadi Aisyah menyebutkan empat rakaat secara berkelompok, kemudian empat yang lain secara berkelompok, karena beliau tidak berhenti setelah salam dari dua rakaat yang pertama, tapi berdiri lagi untuk dua rakaat berikutnya. Apabila telah menyempurnakan empat rakaat beliau berhenti sehingga beliau memisahkan antara dua dua pertama dengan empat berikutnya dengan waktu tenggang yang panjang. 19]

Dengan mencermati perkataan di atas, maka pendapat pertama ini hanya berpegang kepada satu hadits, yaitu hadits Aisyah. Ulama yang mengomentari secara tegas bahwa hadits ini menunjukkan shalat tarawih empat-empat rakaat juga tidak ditemukan, tapi minimal memberikan pemahaman, bahwa empat rakaat dilakukan satu salam. Sesuatu yang belum jelas dan bisa dipahmi dengan bermacam pamahaman, maka istidlal dengan dalil ini menjadi lemah.

Shalat Tarawih dua – dua raka’at

Pendapat kedua ini mengatakan bahwa tarawih adalah shalat malam, maka cara pelaksanaannya sama dengan shalat malam. Bahwa pelaksanaan shalat malam itu dilakukan dua dua rakaat, artinya bersalam dari setiap dua rakaat. Hadits yang menerangkan hal ini diriwayatkan dari Ibn Umar, Ibn Abbas, Zayd bin Khalid al-Juhani, Aisyah, Al-Muthallib Ibn  Rabi’ah dan Amr Ibn ‘Abasah. Penulis akan mencantumkan hadits-hadits tersebut  sebagai berikut:

1. Hadits Ibn Umar

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَام صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى وَعَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِي الْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

Dari Ibn Umar bahwa ada seorang bertanya kepada rasulillah tentang shalat malam, beliau menjawab: shalat malam dua-dua raka’at, apabila salah seorang diantaramu khawatir waktu shubuh, beliau shalat satu raka’at untuk dijadikan witir (penutup) terhadap shalat yang telah dikerjakan. Dari Nafi’ mengatakan bahwa Abdullah Ibn Umar bersalam antara satu dengan dua rakaat yang sebelum.

Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari20], Muslim21], Abu Daud22], Al-Tirmizi 23], An-Nasai 24], Ibn Majah dari  Ibn Umar. Dari Ibn Umar terdapat delapan orang murid beliau yang meriwayatkan darinya, mereka itu adalah Abdullah Ibn Dinar, Nafi’, al-Qasim, Anas Ibn Sirin, Salim Ibn Abdillah, Thowus, Ubaidillah Ibn Abdullah Ibn Umar, abdullah Ibn Syaqiq. Walaupun redaksi sedikit berbeda, namun substansinya satu yaitu shalat malam itu dua-dua rakaat. Al-Bukhariy mencantumkan hadits Ibn Umar dari empat jalan, yaitu dari Abdullah bin Dinar, Nafi, Al-Qasim, Anas Ibn Sirin, dan Salim Bin Abdillah.

Al-Tirmidziy mengomentari hadits ini mengatakan: dalam bab ini ada hadits dari Amr Ibn Abasah, hadits Ibn Umar ini hadits hasan shahih. Menurut ahli ilmi (ulama) praktek ibadah sesuai dengan ini yaitu shalat malam dua-dua raka’at. Ini adalah pendapat Sufyan al-Tsauriy, Ibn Mubarak, Syafi’iy, Ahmad dan Ishaq.25]

Muslim mencantumkan pengertian matsna, matsna dengan mengatakan: ada yang bertanya kepada Ibn Umur: Apa makna dari matsna-matsna? ia menjawab: anda bersalam pada setiap dua rakaat.26]

2. Hadits Ibn Abbas

Hadits yang menerangkan shalat malam dengan dua-dua rakaat juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas sebagaimana di shahih al-Bukhari 27]dan Muslim,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ بَاتَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ وَهِيَ خَالَتُهُ فَاضْطَجَعْتُ فِي عَرْضِ وِسَادَةٍ وَاضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَهْلُهُ فِي طُولِهَا فَنَامَ حَتَّى انْتَصَفَ اللَّيْلُ أَوْ قَرِيبًا مِنْهُ فَاسْتَيْقَظَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آلِ عِمْرَانَ ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ فَتَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي فَصَنَعْتُ مِثْلَهُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبهِ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي يَفْتِلُهَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى جَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ (رواه البخاري و مسلم )

Sesungguhnya Ibn Abbas memberitahunya (Kurayb), bahwa Ibn Abbas menginap di rumah Maymunah bibinya, maka aku berbaring membelintang bantal, sementara rasulullah dan istrinya membujur, lalu beliau tidur sampai separo malam atau sekitar, lantas beliau bangun, lalu beliau menghilangkan tidur dari wajahnya kemudian membaca sepuluh ayat dari surat ali Imran, kemudian bangkit menuju wadah air dari kulit yang tergantung, lantas beliau wudhu’ dengan sempurna, kemudian beliau berdiri mengerjakan shalat, lalu aku mengerjakan hal yang sama, dan berdiri di sampingnya. Lalu beliau letakkan tangannya di atas kepalaku dan menarik kupingku lalu memilinnya, kemudian beliau shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian witir, kemudian beliau berbaring sampai datang muazin, lalu bangun mengerjakan shalat dua raka’at, lalu keluar (pergi mesjid) dan mengerjakan shalat subuh. (H.R. Al-Bukhariy dan Muslim)

3. Hadits Zayd bin Khalid al-Juhani

Di antara sahabat yang meriwayatkan dari rasulullah tentang shalat beliau adalah Zayd bin Khalid al-Juhani yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, dan An Nasa’I :

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَأَرْمُقَنَّ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّيْلَةَ قَالَ فَتَوَسَّدْتُ عَتَبَتَهُ أَوْ فُسْطَاطَهُ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً (رواه مسلم و أبو داود و النسائي )

Dari Zaid Ibn Khalid al-Juhaniy ia berkata: sungguh aku akan mempersentasikan shalat malam rasulullah, maka aku bersandar ke tangga atau kemahnya, lantas rasulullah shalat dua rakaat yang ringan, kemudian dua rakaat yang panjang, yang panjang, yang panjang, kemudian shalat dua rakaat lebih pendek dari yang pertama, kemudian shalat dua rakaat lebih pendek dari sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat lebih pendek dari sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat lebih pendek dari sebelumnya, kemudian shalat witir, yang keseluruhannya 13 rakaat.

4. Hadits Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ  (رواه مسلم و النسائي )

Dari Aisyah istri nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata: rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengerjakan shalat setelah selesai dari menerjakan shalat Isya yang orang menyebutnya dengan shalat atamah sampai waktu fajar sebanyak sebelas rakaat, beliau bersalam antara setiap dua rakaat dan mengerjakan witir. (Muslim 28] dan an-Nasai)

أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْقُدُ فَإِذَا اسْتَيْقَظَ تَسَوَّكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ يَجْلِسُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَيُسَلِّمُ ثُمَّ يُوتِرُ بِخَمْسِ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي الْخَامِسَةِ وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي الْخَامِسَةِ

Sesungguhnya Aisyah berkata: sesungguhnya rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidur, jika beliau bangun, beliau bersiwak, kemudian berwudhu’, kemudian shalat delapan rakaat, duduk pada setiap dua rakaat lantas beliau salam, kemudian berwitir dengan lima rakaat, beliau tidak duduk (tasyahud), kecuali pada rakaat ke lima, dan tidak salam dari shalat kecuali pada rakaat ke lima itu.

5. Hadits Al-Mathallib Ibn Rabe’ah

Al-Mathallib Ibn Rabe’ah,dan  Amr Ibn Abasyah, semuanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad di musnadnya.

عَنْ الْمُطَّلِبِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَتَشَهَّدْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ (رواه أحمد )

Dari al-Muthallib Ibn Rabe’ah bahwa rasulullah mengatakan: shalat malam dua –dua, jika salah seorang diantaramu shalat , maka hendaklah dia bertasyahud pada setiap kali dua raka’at. Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

6. Hadits Amr Ibn Abasyah

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَجَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ  (رواه أحمد )

Dari Amr Ibn ‘Abasah dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ia bersabda: shalat malam dua-dua dan di tengah malam yang terakhir.(Hadits diriwayatkan oleh Ahmad)

7. Hadits Abu Ayyub

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَاكُ مِنْ اللَّيْلِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا وَإِذَا قَامَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَا يَأْمُرُ بِشَيْءٍ وَيُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ (رواه أحمد )

Dari Abi Ayyub bahwa rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menggosok gigi dua atau tiga kali, karena terbangun malam. Jika bangun untuk mengerjakan shalat malam, beliau shalat empat rakaat, tidak bicara, tidak memerintahkan seseorang. Beliau bersalam dari shalat antara setiap dua raka’at.

8. Hadits Abi Sa’id

Ibn Majah menyebutkan dalam bab hadits tentang shalat malam dan siang hadits Abi Sa’id yang mengatakan bahwa salam dari setiap dua rakaat :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ تَسْلِيمَةٌ

Dari Abi Sa’id dari nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ia berkata; setiap dua rakaat

Perkataan ulama

Ibn Abi Syaibah mencantumkan beberapa riwayat diantaranya:

عن أبي سلمة قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسلم في كل ركعتن من صلاة الليل [29

Dari Abi Salamah ia mengatakan: adalah rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersalam pada setiap dua rakaat dari shalat malam.

Adapun Sa’id Ibn Jubair mengatakan: “Setiap dua rakaat ada pemisah”30].’Ikrimah mengatakan: “antara dua rakaat ada salam”31].

Dalil pendapat kedua sangat jelas, shahih dan banyak. Sebenarnya masih banyak lagi riwayat yang memberikan sokongan bahwa shalat malam itu dua-dua termasuk pelaksanaannya pada bulan ramadhan.

Pendapat Mazhab

Mazhab Hanafiyah

Dalam kitab Mukhtashar Qaduri 32]: adapun shalat sunat malam, Abu Hanifah mengatakan: jika dilakukan delapan rakaat dengan satu salam boleh, dan dibenci (makruh) jika lebih dari itu. Abu Muhammad dan Yusuf mengatakan: Tidak boleh lebih dari dua rakaat untuk satu salam.

Di kitab al-Ikhiyar li ta’lil al-Mukhtar 1/5 mengatakan :

كل ترويحة أربع ركعات بتسليمتين يجلس بين كل ترويحتين مقدار ترويحة

Setiap tarwihah empat rakaat dilakukan dengan dua salam, orang yang shalat itu duduk antara dua tarwihah seukuran tarwihah.

Maksud dari tahwihah itu dijelaskan dalam kitab al-banayah. Dimana tarwihah itu adalah penamaan terhadap duduk istirahat setelah menyelesaikan shalat empat rakaat dengan dua kali salam, sebagaimana dijelaskan di bawah ini :

التراويح وهي في الأصل اسم للجلسة وسميت بالتراويح لاستراحة الناس بعد أربع ركعات بالجلسة ثم سميت كل أربع ركعات مجازا لما في آخرها ترويحة … كل ترويحة بتسليمتين 33]

Tarawih, pada asalnya adalah nama untuk perbuatan duduk, dan diberikan nama tarawih untuk istirahat orang dengan duduk setelah empat rakaat, kemudian dinamakan untuk setiap empat rakaat dalam bentuk majaz, karena di akhir empat rakaat itu adalah duduk tarwihah. (duduk istirahat)… setiap tarwihah dilakukan dua salam.

Dari tiga sumber yang penulis ambil dari buku fikih Hanafiy, bisa diambil kesimpulan, bahwa Abu Hanifah memandang boleh melakukan shalat malam delapan rakaat sekali gus dengan satu salam, namun dua orang muridnya yaitu abu Muhammad dan Yusuf berpendapat yang berbeda, mereka menilai tidak boleh shalat lebih dari dua rakaat untuk satu salam, karena pendapat mereka ini disokong oleh dalil, yang mengatakan shalat malam dua –dua rakaat.

Kemudian dalam buku di atas dijelaskan makna tarawih, dan caranya, yaitu tarawih adalah nama bagi duduk istirahat dari shalat empat rakaat. Dan caranya mengerjakan empat rakaat dengan dua kali salam yakni shalat dua rakaat salam, langsung berdiri untuk dua rakaat lagi setela itu istrirahat (tarwihah).

Mazhab Maliky

Al-Kharasyi menjelaskan tentang tarawih bahwa dipertegas tarawih qiyam ramadhan, dinamakan dengan itu karena mereka memanjangkan berdiri, sehingga imam membaca dua ratus ayat mereka shalat dengan dua kali salam, kemudian imam dan makmum duduk untuk istrirahat.34]

Shalat sunat itu matsna-matsna artinya dua rakaat dua rakaat, dan dibenci mengerjakan shalat empat rakaat (sholat sunat) tanpa dipisah dengan salam.35]

Mazhab Syafi’iy

Dalam kitab kifayat al-akhyar mengatakan : (Shalat itu) dinamankan dengan tarawih karena mereka beristirahat setiap selesai dua kali salam, dan dia niatkan shalat tarawih qiyamul Ramadhan pada setiap dua rakaat, jika dikerjakan empat rakaat dengan satu salam maka tidak sah, berbeda dengan sunat zohor kalau ia kerjakan empat rakaat satu salam, maka itu sah. Perbedaannya adalah bahwa tarawih disyariatkan berjamaah, maka hal itu menyerupai shalat fardu, maka tidak boleh dirubah dari bentuk yang telah didatangkan (disyariatkan), dan waktunya adalah antara shalat isya sampai terbit fajar kedua, dan mengerjakannya berjamaah lebih afdhal.36]

Di kitab al-Majmu’ disebutkan: shalat tarawih berjamaah afdhal daripada sendirian, karena ijma’ sahabat dan ijma’ ulama sepenjuru dunia atas hal itu. (pembahasan cabang) waktu tarawih masuk dengan selesainya mengerjakan shalat Isya, begitu disebutkan oleh al-Baghawi dan lainnya. Waktunya berlanjut sampai terbit fajar, dan dikerjakan dua rakaat-dua rakaat seperti biasa, kalau dikerjakan empat rakaat dengan satu salam, maka tidak sah, begitu disebutkan oleh al-Qadhi Husain di fatwanya, karena hal itu menyelisihi yang disyariatkan.37]

Mazhab Hanbaliy

Shalat malam dan siang dua-dua artinya bersalam dari setiap dua rakaat, berdasarkan hadits Ibn Umar yang marfu’ ” Shalat malam dan siang dua –dua ” diriwayatkan oleh al-khamsah dan Imam Ahmad berhujjah hadits ini. Dan hadits : (shalat malam dua-dua) muttafaqun ‘alaihi tidak bertentangan dengan hadits di atas, karena hadits ini adalah jawaban dari pertanyaaan yang dilontarkan yang sudah ditentukan dalam pertanyaan, dan tidak ada nas-nas yang menyatakan semata empat rakaat, karena tidak menghilangkan keutamaan memisahkan rakaatnya dengan salam.[38]

Kitab Inshaf mengatakan: “Dianjurkan untuk bersalam dari setiap dua rakaat walau ia tambah. Di kitab furu’ dikatakan: ” Zahir dari perkataan mereka bahwa shalat itu seperti yang lain (dari shalat sunat). Imam Ahmad berkata tentang orang yang berdiri untuk mengerjakan rakaat ke tiga dalam shalat tarawih : “Ia kembali (turun) walaupun sudah membaca, karena ia wajib bersalam, hal itu akan dijelaskan sebentar lagi.39]

Analisa Penulis Terhadap kedua pendapat

Setelah memaparkan kedua pendapat beserta dalil mereka masing-masing serta sebagian pendapat ulama yang terkait kepada keduanya, maka penulis mencoba mencermati dan memberikan analisa sebagai berikut.

  1. Pendapat empat – empat rakaat hanya berpegang kepada satu dalil, yaitu hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh kutub sinttah kecuali Ibn Majah. Semuanya dari jalur Malik dari Said al-Maqburi dari Abi Salam dari Aisyah. Berbeda dengan hadits yang menerangkan shalat dua-dua, diriwayatkan oleh banyak orang. Hadits dari Ibn Umar dikeluarkan oleh kutub sittah. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits Ibn Umar dari empat jalur. Adapun Imam Muslim meriwayatkan dari lima jalur sanad.
  2. Disamping hadits Ibn Umar, ada juga hadits-hadits yang lain yaitu: dari Ibn Abbas, Aisyah, Zayd bin Khalid al-Juhani, Al-Muthallib Ibn  Rabi’ah dan Amr Ibn ‘Abasah. Hal ini menunjukkan bahwa shalat dua dua rakaat lebih populer riwayatnya daripada shalat empat-empat.
  3. Perkataan aisyah yang mengatakan empat, empat, tiga, bisa dipahami dengan dua versi, yang pertama empat dengan satu salam, dan kedua empat dengan dua salam. Artinya hadits ini tidak memberikan satu pengertian yang jelas, tapi bisa dipahami dengan yang lain. Perkataan al-Shon’aniy dalam subulus salam yang dijadikan argumen bagi yang berpendapat empat-empat, hanya sebatas menjelaskan bahwa hadits ini bisa dipahami dengan dua versi penafsiran. Namun secara realita, dia memperkuat pendapat dua-dua. Berbeda dengan hadits dua, dua, dimana hadits ini hanya memiliki satu makna yang tidak mungkin dipahimi kecuali dangan makna setiap dua rakaat menutupnya dengan salam.
  4. Dengan memakai kata “tsumma” menunjukkan adanya fase atau masa yang memisahkan antara empat pertama dengan empat berikutnya. Seakan-akan melakukannya dengan berkelompok-kelompok, yaitu dengan cara empat rakaat dua kali salam, yakni setiap dua rakataat disudahi dengan bersalam, terus segera berdiri untuk mengerjakan dua rakaat lagi, setelah itu beristirahan. Sehingga dua dua tersebut seperti empat rakaat yang bersambung. Hal ini dipertegas oleh makna tarawih dari kata tarwihah yang artinya duduk istirahat setelah mengerjakan empat rakaat.
  5. Ditinjau dari komentar ulama, maka yang berpendapat bolehnya mengerjakan shalat lebihdari dua rakaat dengan satu kali salam adalah Abu Hanifah sebagai pencetus mazhab hanafy, namun pendapat ini diselishi oleh dua orang muridnya. Dan setelah dilihat dari pemaparan dari empat mazhab di atas, maka keempat mazhab berpendapat bahwa shalat tarawih adalah dua dua. Dengan demikian jumhur ulama berpendapat bahwa shalat tarawih adalah dengan dua rakaat dua rakaat. Maka pendapat yang mengatakan shalat tarawih empat-empat rakaat adalah pendapat yang menyelisihi pendapat jumhur ulama.
  6. Mentarjih hadits Aisyah yang mengatakan empat, empat, tiga terhadap hadits dua-dua, menurut penulis merupakan tindakan yang keliru, karena tarjih itu, baru bisa dilakukan jika ada dua dalil yang kelihatannya kontraversial. Hemat penulis kedua dalil itu tidak kontraversial. Apalagi Aisyah yang meriwayatkan hadits shalat empat-empat, juga meriwayatkan dan menyatakan bahwa Rasulullah shalat malam dengan melakukan salam dari setiap dua rakaat, seperti yang telah disebutkan di atas. Maka hadits Aisyah empat-empat ditafsirkan oleh hadits Aisyah yang menyatakan salam dari setiap dua rakaat. Dengan kedua dalil bisa diamalkan.
  7. Pemaparan di atas semakin meyakinkan penulis, bahwa shalat tarawih dikerjakan dengan dua-dua rakaat, bukan empat-empat, sebagaimana yang sudah menjadi tradisi. Maka tiada lain bagi yang memahami hal  ini kecuali kembali kepada kebenaran, dan mensosialisikannya kepada masyarakat. Kembali kepada kebenaran dan meninggalkan kekeliruan merupakan tindakan terpuji. Namun bersekukuh di atas kekeliruan setelah dijelaskan dengan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh penuntut ilmu, yang menjunjung tinggi etika keilmuan, apalagi menjunjung tinggi ajar yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah.

Akhirnya penulis minta maaf, kalau sekiranya dalam penulisan ini ada kekeliruan dan kesalahan, maklumlah, manusia memiliki sifat kilaf dan salah, hanya kepada Allah –lah penulis minta ampun dan beristighfar. Semua kebenaran yang ada tiada lain kecuali datangnya dari Allah ta’ala. Kemudian penulis meminta kepada hadirin untuk bisa memberikan masukan, baik sanggahan, atau sokongan agar diskusi untuk mencari titik kebenaran bisa tercapai dengan baik. (Oleh: Muhammad Elvi Syam, Lc.MA. Dipersentasikan di Muzakarah Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, Sabtu 15 November 2008). [radiorayfm.com]

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه المصير وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا     والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Daftar Pustaka

al-Azhim abadiy, Muhammad Syams al-Haq, Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abiy Dawud, Bairut, Dar Kutub Ilmiyah, 1990

Al-Bassam, Abdullah Ibn Abd Rahman, Tawdhih al-Ahkam min bulugh al-Maram, Makkah, Maktabah Nahdhah, 1997

Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhari Kairo, Maktabah al-Salafiyah,tt

CD kompoter Maktabah Syamilah  Mufti ‘Athiyah Shaqr, Fatawa  al-Azhar.

…………………………Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab oleh an-Nawawi

…………………………Al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil

…………………………Syarh Muntaha al-Iradat

…………………………Al-Inshaf

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, 1424H)

Ibn Hajar Al-Asqalâniy, Fath al-Bâriy  Bairut, Dar al-Marifah,tt

……………………….., Taqrib al-Tahdzîb, Bairut, Muassasah al-Risalah 1996

Abu Isa Al-Tirmiziy, Sunan al-Tirmiziy, (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, tt)

Ibn Abiy Syaybah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah (Beirut, Dar al-Qurtubah, 2006

al-Mubarakfuri, Muhammad Abd Rahman Ibn Abd Rahim, Tuhfah al-Ahwadzi bisyarh Jami’ al-Tirmidziy, Kairo, Maktabah Ibn Taymiyah 1987

Al-Nasa’iy,Sunan Al-Nasa’iy, (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, tt)

Al-Nawawi, Al-Minhaj fiy syarh shahih muslim, Amman; Baitu al-Afkar al-Duwaliyah,tt

Al-Qadûriy, Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ahmad Ibn Ja’far , Mukhtasyar al-Qadûriy fi al-Fiqh al-Hanafy , Bairut; Dar al-Kutub Al-Ilmiyah

al-Ramafuriy, Muhammad Ibn Umar Nashir al-Islam, Al-Banâyah fiy Syarh al-Hidayah, Beirut; Dar al-Fikr, 1990

al-Shan’aniy, Muhammad Ibn Isma’il al-Amir, Subul Al-Salam, Dammam, Dar Ibn Jawziy1997

[1]  Ibn Hajar Al-Asqalâniy, Fath al-Bâriy ( Bairut, Dar al-Marifah,tt) Jilid IV hal. 250.

[2]  Lihat , Al-Bukhariy, Shahih al-Bukhari (Kairo, Maktabah al-Salafiyah,tt) jilid II hal.60,  Al-Nawawi, Al-Minhaj fiy syarh shahih muslim, Amman; Baitu al-Afkar al-Duwaliyah,tt. hal.517. Hadits juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Tirmizi, dan Al Nasa’I.

[3]  Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, 1424H) disertai dengan penilaian hadits oleh Muhammad Nashir al-Din al-Albaniy, jilid I, hal.237.

[4]  Al-Nasa’iy,Sunan Al-Nasa’iy, (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, tt) disertai dengan penilaian hadits oleh Muhammad Nashir al-Din al-Albaniy, hal.265.

[5]  Abu Isa Al-Tirmiziy, Sunan al-TIrmiziy, (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, tt) disertai dengan penilaian hadits oleh Muhammad Nashir al-Din al-Albaniy,hal.197.

[6]  A-Nawawi, op.cit.hal.517.

[7]  Al-Bukhariy, op.cit.jilid II hal.61.

[8]  An-nawawi, op.cit, hal 508.

[9] Abu Daud, op.cit, hal 230.

[10] At-Tirmiziy, op.cit, hal 118.

[11] An-Nasa’iy, op.cit, hal 278.

[12] Lihat Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdzîb, Bairut, Muassasah al-Risalah 1996, hal.176.

[13] Ibid, hal.568.

[14]  Al-Nawawi, op.cit.hal.508.

[15]  Muhammad Syams al-Haq al-Azhim abadiy, Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abiy Dawud, Bairut, Dar Kutub Ilmiyah, 1990, jilidIV hal.153

[16]  Muhammad Abd Rahman Ibn Abd Rahim al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bisyarh Jami’ al-Tirmidziy, Kairo, Maktabah Ibn Taymiyah 1987, Jilid II, hal. 517.

[17] Muhammad Ibn Isma’il al-Amir al-Shan’aniy, Subul Al-Salam, Dammam, Dar Ibn Jawziy1997, jilid III, hal.44.

[18]  Mufti ‘Athiyah Shaqr, Fatawa  al-Azhar. (CD kompoter Maktabah Syamilah).Coba dilihat di buku cetak jilid VIII hal 464.

[19] Abdullah Ibn Abd Rahman al-Bassam, Tawdhih al-Ahkam min bulugh al-Maram, Makkah, Maktabah Nahdhah, 1997, jilid.II. hal.2.

[20]  Al-Bukhariy, op.cit, jilid I, hal.313.

[21]  Al-Nawawi, op.cit, hal.513.

[22]  Abu Dawûd, op.cit, hal.227.

[23]  Al-Tirmidzi, op.cit, hal.118.

[24]  Al-Nasa’iy, op.cit, hal.277.

[25]  Al-Tirmidzi, op.cit, hal.118.

[26]  Al-Nawawi, op.cit, hal.513.

[27]  Al-Bukhariy, op.cit, jilid I, hal.313.

[28]  Al-Nawawi, op.cit, hal.507.

[29]  Ibn Abiy Syaybah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah (Beirut, Dar al-Qurtubah, 2006),Jilid IV, hal. 444. Abiy salamah adalah Abi Salamah Ibn Abdurrahman Ibn Auf, ta’biy. Maka hadits ini adalah mursal, namun syahid-syahid hadits ini adalah shahih.

30]  Ibid.

31]  Ibid.

[32] Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ahmad Ibn Ja’far Al-Qadûriy , Mukhtasyar al-Qadûriy fi al-Fiqh al-Hanafy , Bairut; Dar al-Kutub Al-Ilmiyah, hal.33.

33] Muhammad Ibn Umar Nashir al-Islam al-Ramafuriy, Al-Banâyah fiy Syarh al-Hidayah, Beirut; Dar al-Fikr, 1990, jilid II hal 659.

[34]  Al-Kharasyi, Syarh Mukhtashar Khalil , CD Maktabah Syamilah jilid IV hal. 321.

[35]  Al-Fawakih al-Diwaniy ‘ala Risalah Ibn Abi Zaid al-Qayrawaniy. CD Maktabah Syamilah jilid 2 hal.356.

[36]  Kifayatul akhyar jilid I hal 89 diambil dari CD al-Maktabah al-Syamilah.

[37]  Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab oleh an-Nawawi jilid IV hal 38 diambil dari CD al-Maktabah al-Syamilah.

[38]  Syarh Muntaha al-Iradat jilid II hal 69, diambil dari CD Al-Maktabah Al-Syamilah.

[39]  Al-Inshaf jilid III hal. 122. diambil dari CD Al-Maktabah Al-Syamilah.

Iklan

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 27 Mei 2015, in Fatwa, Fiqih, Hadist and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: