Balimau Antara Penyucian Diri dan Mengotori Diri


balimau boliah ndak yoBalimau dan penyucian diri (baca: taubat nashuha) jelas berlawanan. Balimau adalah sebuah budaya ritual keagamaan di akhir bulan Sya’ban sebelum memasuki awal Ramadhan yang bertujuan untuk menyucikan diri. Sementara taubat nashuha merupakan ibadah yang bila ditunaikan jiwa raga jadi suci.

Budaya balimau banyak dijumpai di Sumatera Barat. Walaupun daerah Sumatera Barat memiliki filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai, hukum adat berdasarkan hukum agama, hukum agama berdasarkan Al-Quran, namun ada tradisi yang bertentangan dengan agama masih tetap hidup bahkan makin memasyarakat, yaitu tradisi balimau.

Tradisi balimau biasanya dilakukan sehari sebelum masuk Ramadhan. Menjelang sore, warga mandi massal di sungai dan danau. Di Padang, warga menyerbu lokasi pemandian Lubuk Paraku, Lubuk Minturun, dan Batang Kuranji. Lokasi tersebut dijejali ratusan hingga ribuan orang yang hanya ingin mandi-mandi bersama keluarga untuk menyambut bulan puasa. Di Kapur IX seperti di Batang Kopu, Ujuong Lobuo Durian Tinggi.

Sejumlah penduduk bahkan membawa daun pandan, buah limau/jeruk, bunga mawar, kenanga, dan melati. Semua bahan balimau dima-sukkan ke wadah berisi air dan dengan air inilah mereka mandi lalu bercebur ke dalam sungai. Mereka percaya, mandi ini selain membersihkan juga menyucikan diri.

Ajaran Islam tidak mengenal kegiatan spiritual. Itulah sebabnya, tradisi ini sempat melahirkan kecaman dari tokoh agama di Padang. Seperti dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar Gusrizal Gazahar, yang menyatakan bahwa balimau tidak mencerminkan tradisi yang Islami. “Tidak ada ha¬dits yang membolehkan bali¬mau, haram hukumnya,” ujarnya (kepada VIVAnews, Selasa 10 Agustus 2010).

Buya Mas’oed Abidin berpendapat MUI daerah ini patut mengeluarkan fatwa bahwa tradisi “balimau” –mensucikan diri di sungai secara bersama-sama– sehari menjelang masuknya ramadhan adalah haram. “Karena memang tidak ada ajarannya dalam Islam,” kata Buya Mas’oed Abidin yang Mantan Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Sumatera Barat,” ujarnya (kepada Antara,Jumat, 21 Agustus 2009)

Tradisi balimau yang dulunya sebuah ritual yang mengandung makna positif (tetapi bukan dari Islam) berputar arah menjadi sebuah budaya yang terkadang juga untuk melakukan maksiat. Ini hanya sebatas euforia yang cenderung menyesatkan untuk menyambut bulan puasa.

Tradisi ini dinilai peninggalan Hindu yang umatnya mensucikan diri di Sungai Gangga, India.

Balimau dianggap mirip dengan Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya pada pertengahan Januari, kemudian ada Raksabandha sebagai penguat tali kasih antar sesama yang dilakukan pada Juli-Agustus, lalu Vasanta Panchami pada Januari-Februai sebagai pensucian diri menyambut musim semi.

Sebenarnya tradisi mandi suci menyambut ramadhan ini bukan hanya terjadi di Tanah Minang saja. Di sejumlah daerah juga melakukan hal yang sama. Misalnya warga Riau melakukannya di Sungai Kampar. Istilahnya juga mirip dengan di Minang, yaitu Balimau Kasai (baca: balimau dengan bunga rampai). Selain di Sungai Kampar juga Tepian Pantai Muara Lembu  kecamatan Singingi Kabupaten Kuansin. Upacara mandi ini juga diadakan  di tepi sungai Limbung, Dusun Limbun, Desa Jada Bahrein, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, yaitu pada akhir bulan Sya’ban atau seminggu sebelum Ramadhan.

Di kawasan Jawa, tradisi mandi suci disebut dengan Padusan. Ini dilakukan di setiap pelosok kampung. Juga dilakukan sehari menjelang ramadhan. Padusan adalah simbol mensucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Tempat mandi yang dicari adalah yang alami. Sebab mereka percaya sumber air yang alami adalah air suci yang menghasilkan tuah yang baik. Bahkan dimeriahkan dengan berbagai acara seperti pasar rakyat dan pentas dangdut di Karanganyar.

Balimau bagi sebagian masyarakat boleh dilakukan sendiri di kamar mandi sebagaimana mengunjungi kerabat dan tetangga untuk meminta maaf dan saling memberi maaf juga boleh dilakukan sendiri, tidak berjamaah (baca: bersama-sama) di tempat pemandian. Meminta maaf secara khusus sebelum memasuki bulan ramadhan dianggap sebagai sunnah, ajaran islam yang harus diutamakan.

Meminta maaf yang dikhususkan sebelum ramadhan ini diamalkan oleh masyarakat berdasarkan hadis tentang do’a Malaikat Jibril  yang berbunyi “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

  1. Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
  2. Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
  3. Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitar¬nya. Maka Rasulullah pun mengatakan amin sebanyak 3 kali. Hadis ini diperdebatkan oleh ulama dari segi maksud (baca: interpretasi)-nya.

Sebenarnya anjuran memberi maaflah yang lebih diperintahkan oleh agama Islam (QS Ali Imran/3: 134,  An-Nuur/24: 22, Al-Hijr/15: 85,  Al-A’raf/7: 199,  dan Asy-Syura/42: 43). Jelaslah bahwa budaya dan tradisi balimau kontra produktif dengan semangat menyucikan diri, sebab, pertama bercampurnya laki-laki  dan perempuan dewasa dengan aurat terbuka yang dapat menumbuhkembangkan kemaksiatan. Kedua balimau dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Padahal para ulama tidak menyarankan seperti itu bahkan ada yang mengharamkan pelaksanaannya karena menyemaikan bibit perzinahan di tempat pelaksanaan. Ketiga seorang ulama yang pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts wal Ifta’ (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) yaitu Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya: “Apakah ada amalan-amalan khusus yang disyariatkan untuk menyambut bulan Ramadhan?” Dia mengatakan bahwa dia tidak mengetahui ada amalan tertentu untuk menyambut bulan Ramadhan selain seorang muslim menyambutnya dengan bergembira, senang dan penuh suka cita serta bersyukur kepada Allah karena sudah berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari. Setidaknya ada tiga yang perlu kita kerjakan, yaitu;

1). Membekali diri dengan ilmu tentang puasa. Bekal ini amat utama sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebai-kan.”  Tidak tahu akan tata cara pelaksanaan puasa dapat mengakibatkan puasa rusak dan pahala menjadi tidak sempurna padahal Allah akan berikan pahala tak terhingga bagi orang yang berpuasa.

2). Lakukan taubat nashuha, bertaubat dari segala dosa kemudian tidak mengulanginya lagi.
Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (nashuha), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (QS At-Tahrim/66: 8). Untuk dapat menunaikan perintah taubat nashuha ini setidaknya kita menjalani lima hal, yakni 1) Taubatnya harus ikhlas, hanya mengharapkan dengannya wajah Allah.
Taubatnya bukan karena riya, bukan pula karena sum’ah (keinginan untuk didengar) dan bukan pula karena dunia 2) Berlepas diri dari maksiat tersebut 3) Menyesali dosa yang telah dia kerjakan tersebut 4) Bertekad untuk tidak mengulangi maksiat tersebut 5) mengembalikan apa yang kita zhalimi kepada pemiliknya, kalau kezhalimannya berupa darah atau harta atau kehormatan. Maksudnya kalau kita menzhalimi seseorang pada darahnya, harta atau kehormatannya, maka kita wajib untuk meminta maaf kepadanya dan meminta kehalalan darinya atas kezhaliman kita.
3. Banyak memohon kemudahan dari Allah. Seperti yang diajarkan nabi Muhammad saw. dalam do’anya “Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot,” Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. (H.R. Tirmidzi)

Beramallah pada pada substansi masalah dan jauhkanlah diri dari sesuatu yang bukan inti penga¬malan. Tekadkanlah kehendak dan niat dekat kepada Allah menurut wahyunya dari pada hanya sekedar menyiramkan air pada raga. Hapuslah hati yang bebal berkarat dan berilah maaf pada sesama. Wallaahu a’lamu bish shawab, dan Allah lebih mengetahui pada yang benar.[harianhaluan]
————————————-
HM FARID WAJRI RM
(Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)
SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh)

Iklan

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 12 Juni 2015, in Aqidah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Benar banget gan, jika melakukan sesuatu itu harus dgn ilmu, jika tidak dgn ilmu maka kegagalan lah yang akan kita hadapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: