Makan Jam dua Malam, termasuk makan Sahur?


jam-2Kapan mulai terhitung waktu sahur diperselisihkan oleh para ulama. Hal ini penting, misalnya makan jam dua malam, apakah ini termasuk makan sahur yang mendaoat keutamaan dan berkah makan sahur?

Mengenai hal ini terbagi dalam tiga pendapat:
[1] Sahur dimulai dari pertengahan malam, ini adalah pendapay jumhur (mayoritas ulama) mazhab yang empat[1]

Catatan: yang dimaksud pertengahan malam adalah makna syariat, yaitu tenggelamnya matahari (misalnya: setengah 6 sore ) dan terbitnya fajar (misalnya: setengah 5, maka tengah malam kira-kira jam 23:00 (11 malam).

[2] dimulai dari sepertiga malam terakhir , ini adalah pendapat sebagian hanafiyah[2]

[3] dimulai seperenam malam terakhir, ini adalah pendapat sebagian Hanfiyah, Malikiyah dan Syafiiyah[3]

Dan pendapat yang lebih kuat adalah:
waktu sahur dimulai seperenam malam terakhir[4]

dengan Alasan:

[1] lebih dekat dengan pengertian sahur secara bahasa

أن السحر في اللغة هو آخر الليل وقبيل الصبح مما يبين شدة تأخره وقربه من الصبح وهذا مما يقوي أنه السدس الأخير

“Sahur secara Bahasa adalah akhir waktu malam, menjelang subuh. Karena diakhirakan menjelang subuh dan dekatnya dengan subuh, maka ini menguatkan bahwa sahur itu seperenam akhir malam.”[5]

[2] Praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang benar-benar mengakhirkan waktu makan sahur

‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا

Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur.”[6]

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً .

 “Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat”.

(Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira (membaca) 50 ayat (Al-Qur’an)”[7]

[3] penjelasan dari beberapa hadits mengenai waktu sahur

Waktu makan sahur adalah adzan pertama (munculnya fajar kadzib, belum masuk waktu shalat subuh) sampai adzan kedua (munculnya fajar shadiq, sudah masuk waktu shalat subuh). Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adzan pertama dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah sedangkan adzan kedua dikumandangkan oleh Ibnu Ummi Maktum.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

“Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.”[8]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ

“Fajar ada dua macam:

(Pertama) fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shadiq, fajar masuknya waktu shalat shubuh)
dan (Kedua) fajar yang diharamkan untuk shalat (yaitu shalat shubuh) dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shadiq).”[9]

Kesimpulan:
waktu sahur dimulai dari seperenam akhir malam, jadi makan jam dua malam, tidak terhitung waktu sahur. Demikian semoga bermanfaat.[muslimafiyah]

———————————————-

[1] Al-Majmu An Nawawi 6/379, Badhai’us shana’i 3/93 dan kifayatul akhyar hal 201

[2] Al-Mabsuth 9/5 dan Badhai’us shana’i 6/93

[3] Hasiyah Raddil Mukhtar 2/419

[4] Pembahasan ini banyak mengambil faidah dari link: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=288494

[5] Al-Mu’jam Al-Wasith 1/419 dan fathul Baari Ibnu Hajar 2/487

[6]HR. Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf 4/226, no. 7591; dishahihkan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath

[7] HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097

[8]HR. Bukhari no. 623 dan Muslim no. 1092
[9] HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 8024 dan Ad Daruquthni” no. 2154, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom

Iklan

About admin

Berjuang menegakkan Dakwah Sunnah di Ranah Minang

Posted on 15 Juni 2015, in Fiqih and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Subhanallah, oh gt ya penjelasannya, baru tau.. terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: