Arsip Blog

Imam & Khathib Masjid Al Haram, Ahmad Al Khathib Al Minangkabawi


A. Muqaddimah

Dalam panggung sejarah, Islam sudah lama dikenal oleh penduduk Melayu. Bahkan menurut Ustadz ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah atau yang lebih dikenal dengan Hamka, Islam sudah melebarkan sayapnya di bumi Melayu sejak abad pertama hijriah. Namun sayang, meski Islam sudah sekian abad di Melayu, ajaran-ajaran yang diamalkan kaum muslimin di sana banyak yang menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Ajaran-ajaran tasawwuf ala shufi dan keyakinan-keyakinan bid’ah dan sesat seperti takhayul, khurafat sampai ajaran martabat tujuh atau wihdatul wujud banyak mewarnai amalan-amalan kaum muslimin di bumi Melayu.

Seiring bergulingnya waktu, kaum muslimin di Melayu mulai sadar akan kekeliruan ajaran yang selama ini mereka anggap bagian dari Islam justru bertentangan. Maka usaha-usaha dalam memurnikan ajaran Islam di Melayu pun segera dimulai. ‘Episode’ pertama diawali oleh tiga jama’ah haji yang membawa oleh-oleh dari Tanah Suci berupa ‘filter’ ajaran sesat di ranah Minangkabau. Kemudian ‘episode’ berikutnya ditunjukkan oleh Syaikh Ahmad Al Khathib rahimahullah, seorang ulama yang muqim di Makkah yang terkenal dengan kegigihannya dalam menyerang kelompok-kelompok ahlul bida’ wal ahwa’ dan adat-adat yang bertentangan dengan syariat Islam baik melalui tulisan-tulisan maupun murid-muridnya yang kembali ke Melayu. Read the rest of this entry

Tuanku Nan Renceh Penegak Syariat Islam di Ranah Minang


PANGMA kaum paderi yang tegas dan penuh wibawa. Berhasil melaksanakan pemurnian Islam ke setiap nagari di Ranah Minang, sampai-sampai kewajiban menunaikan shalat dikontrol sangat ketat

Kejayaan Islam di Ranah Minang (Sumatera Barat) pernah mencapai puncaknya ketika kaumpaderi (ulama) dipimpin oleh ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh. Kekuasaannya menghunjam sampai lembaga pemerintahan nagari yang diberi hak otonom oleh Kerajaan Minangkabau. Kerajaan tersebut kala itu berpusat di Pagaruyung.

Pusat kekuasaan kaum paderi sendiri berada di teritorial Luhak (Kabupaten) Nan Tuo, yakni Luhak Agam, Tanah Datar, dan Luhak Nan Limopuluah Dikoto. Atau, seluas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kabupaten 50 Kota sekarang. Read the rest of this entry

Video_Ritual Kesyirikan Batu Angkek-Angkek


(Warning: Saat menghidupkan video ini, harap suaranya di non aktifkan, cukup lihat apa ritual yang di peragakan)

Batu Angkek-Angkek “Syirik Terbuka”

Sepertinya promosi dan brosur-brosur tentang keunikan di Kabupaten Tanah Datar perlu dipertanyakan, apalagi untuk dikomersilkan. Betapa tidak, cerita bohong yang tidak masuk akal orang bodoh sekalipun. Apalagi tulisan yang ada di depan rumah tempat batu angkek-angkek di buat oleh pariwisata dan disahkan Pemda.  Read the rest of this entry

%d blogger menyukai ini: